Tuesday, September 8, 2026

APL Rilis Kampanye ‘Berani Bicara Berat’ Edukasi Penanganan Obesitas

Must Read

marketinginsight.id – Strategi komunikasi pemasaran di sektor kesehatan kini semakin bergeser ke arah edukasi publik berbasis sains yang berkelanjutan.

Merek dan perusahaan farmasi dituntut tidak hanya memasarkan solusi medis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif atas isu-isu kesehatan kritis.

Langkah edukasi yang tepat dinilai mampu mengubah persepsi pasar sekaligus mematahkan stigma sosial yang kerap menghambat penanganan medis.

Pendekatan ini memperkuat pemosisian merek sebagai mitra tepercaya yang menghadirkan nilai tambah nyata bagi masyarakat.

Inisiatif komunikasi terintegrasi ini menjadi krusial dalam membangun engagement yang berdampak panjang pada ekosistem kesehatan nasional.

Sinergi antara pemangku kepentingan dan komunikasi strategis pun menjadi kunci utama keberhasilan kampanye.

PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), anak perusahaan Zuellig Pharma, meluncurkan “Berani Bicara Berat” sebagai kampanye edukasi kesehatan masyarakat.

Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks sekaligus mendorong masyarakat mengakses penanganan medis yang tepat.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, obesitas mengintai 23,4 persen atau hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia.

Prevalensi pada perempuan tercatat mencapai 31,2 persen, angka yang hampir dua kali lipat dibanding laki-laki sebesar 15,7 persen.

Tingginya angka tersebut menjadi tantangan serius yang menimbulkan beban sosial dan ekonomi bagi negara. Masalah ini dipengaruhi oleh beragam faktor mulai dari genetik, biologis, perilaku, medis, hingga kondisi lingkungan.

Kondisi obesitas juga berkolerasi kuat dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, kardiovaskular, stroke, dan kanker.

Bagi sebagian besar penderita, perubahan gaya hidup semata kerap belum cukup untuk menurunkan berat badan secara berkelanjutan.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa obesitas bukanlah sekadar persoalan berat badan atau disiplin gaya hidup.

Penanganan penyakit kronis ini memerlukan penguatan edukasi serta perubahan perilaku agar penderita memperoleh intervensi medis yang tepat.

Di Indonesia, pandangan salah yang mengaitkan obesitas dengan kurangnya disiplin diri sering memicu stigma sosial.

Stigma tersebut membuat banyak individu enggan mencari dukungan klinis dan penanganan medis yang berdampak buruk pada psikologis mereka.

Kampanye “Berani Bicara Berat” hadir untuk meluruskan persepsi keliru tersebut dengan menempatkan obesitas sebagai kondisi yang butuh pendampingan tenaga kesehatan. Langkah ini berupaya mematahkan pandangan lama dan membangun kesadaran baru di tengah masyarakat.

Chief Operating Officer Commercialization APL, Ay Lie Widjaja, menyampaikan bahwa APL memiliki misi membuat layanan kesehatan menjadi lebih mudah diakses.

Melalui kampanye ini, masyarakat diberdayakan lewat edukasi berbasis sains agar berani berkonsultasi langsung dengan dokter.

Peluncuran program ini turut ditandai dengan diskusi panel bertajuk “Berani Bicara Berat, Awali dengan Langkah yang Tepat”. Diskusi tersebut menghadirkan pakar dari bidang medis, endokrinologi, gizi klinis, hingga kesehatan masyarakat.

Para ahli yang hadir mencakup Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Ketua PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, serta Ketua Pengurus Pusat PDGKI dr. Erwin Christianto. Forum ini menekankan pentingnya intervensi medis yang berkelanjutan dan terpersonalisasi.

Dalam forum tersebut, Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme biologis yang mempertahankan berat badan.

Oleh karena itu, target penanganan obesitas harus berfokus pada penurunan risiko komplikasi jangka panjang dan bukan sekadar angka pada timbangan.

Kompleksitas penyakit ini juga membuktikan bahwa tidak ada metode tunggal yang bisa diterapkan sama untuk semua orang. Setiap individu membutuhkan pendekatan nutrisi, dukungan psikologis, serta terapi medis yang disesuaikan dengan kebutuhan klinis masing-masing.

Ketua Pengurus Pusat PDGKI dr. Erwin Christianto menambahkan bahwa asesmen gizi klinis menjadi modal awal penentuan strategi nutrisi penderita.

Strategi ini kemudian dikombinasikan dengan terapi medis dan perubahan perilaku untuk meningkatkan kualitas hidup.

Saat ini pilihan terapi medis terus berkembang, salah satunya melalui terapi berbasis incretin yang bekerja pada reseptor tubuh. Kendati demikian, pemanfaatan terapi ini harus diawasi secara ketat oleh tenaga medis profesional.

Sebagai wujud nyata, APL bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengedukasi lebih dari 21.000 tenaga kesehatan di Indonesia.

Perusahaan juga meluncurkan microsite edukasi berbasis sains guna membantu masyarakat memahami penanganan obesitas yang benar.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Arron Bryan Rilis Koleksi OPPOSITE di BRI JF3 Fashion Festival 2026

marketinginsight.id – Panggung busana akbar BRI JF3 Fashion Festival 2026 menjadi saksi debut emosional sekaligus transformatif bagi desainer muda bertalenta,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img