Monday, August 10, 2026

PINTU Incubator 2026 Perkuat Kolaborasi Mode Indonesia dan Prancis

Must Read

marketinginsight.id – Memasuki tahun kelima, PINTU Incubator terus memperkuat kolaborasi mode Indonesia dan Prancis melalui pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, dan pengalaman lintas budaya.

Pada 2026, perjalanan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara merek Indonesia dan Prancis, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli, serta dua koleksi hasil PINTU Residency yang dikembangkan melalui proses riset dan kolaborasi bersama komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto.

Selain itu, tahun ini menjadi tonggak baru dengan dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia.

Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat kesinambungan program, membangun struktur yang lebih kokoh, serta memperluas dampak PINTU bagi ekosistem mode Indonesia.

Selanjutnya, dalam konferensi pers yang berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026, di JF3 Media Room, Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, PINTU menyampaikan perkembangan program 2026.

Dalam kesempatan tersebut, dipaparkan berbagai kolaborasi yang telah berlangsung serta para peserta dan koleksi yang akan hadir dalam rangkaian JF3 Fashion Festival 2026 pada 22–29 Juli mendatang.

Perlu diketahui, PINTU Incubator merupakan inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI). Sejak diluncurkan pada 2022, program inkubasi ini telah berhasil menarik minat lebih dari 10.000 merek dan desainer.

Pada perkembangan terbaru, PINTU Incubator menerima 39 pendaftar pada penyelenggaraan tahun 2026. Setelah melalui proses seleksi ketat, sepuluh peserta mengikuti program inkubasi dan lima di antaranya terpilih untuk mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.

Adapun program ini dibangun berdasarkan keyakinan bahwa talenta mode memerlukan lebih dari sekadar kreativitas.

Para pelaku industri kreatif juga membutuhkan ruang untuk belajar, memahami proses, memperluas sudut pandang, serta menemukan arah yang paling relevan bagi perkembangan karya dan brand mereka.

Mengenai visi program, Thresia Mareta selaku Co-Initiator PINTU Incubator dan Pendiri LAKON Indonesia menjelaskan bahwa PINTU tidak dibangun untuk memberikan satu jawaban yang sama kepada setiap peserta. PINTU hadir untuk membantu para desainer memahami perjalanan serta pilihan karier masing-masing.

Pendiri LAKON Indonesia tersebut percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh hanya karena diberi lebih banyak jawaban. Mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat untuk mengenali kekuatan serta menentukan arah karya.

Di sisi lain, Chairman JF3 sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria, menekankan pentingnya ekosistem yang bekerja secara konsisten dalam mendukung pertumbuhan pelaku mode.

Pihaknya menegaskan bahwa JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri.

Melalui keberadaan PINTU, pihak penyelenggara membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi. Ekosistem yang kuat diyakini harus mampu mendampingi para desainer untuk terus berkembang dalam jangka panjang.

Guna mendukung hal tersebut, PINTU Incubator 2026 menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling.

Program ini melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, hingga industri kreatif.

Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026.

Peserta terpilih tersebut terdiri dari dua merek, Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer yaitu ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.

Menariknya, kelima peserta menghadirkan pendekatan yang beragam, mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring hingga pengembangan aksesori bersama artisan.

Mereka juga menampilkan reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, serta pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab produksi.

Sementara itu pada jalur Accelerator, brand DENIMITUP mengembangkan kolaborasi dengan label asal Prancis, TAREET. Kolaborasi tersebut berhasil mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama.

Di samping itu, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026 menjadi bagian dari hubungan yang terus berkembang antara PINTU dan institusi pendidikan mode Prancis.

Momen internasional ini memberikan pengalaman presentasi dan interaksi langsung bagi merek Indonesia di lingkungan mode global.

Oleh karena itu, kedua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana jejaring PINTU dapat membuka ruang bagi kolaborasi, pertukaran pengalaman, dan kemungkinan baru bagi para pelaku mode Indonesia. Keberhasilan ini semakin memperkuat posisi PINTU sebagai wadah akselerasi talenta lokal.

Memasuki penyelenggaraan keduanya, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan.

Program yang dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer ini berlangsung sejak April hingga Juli 2026 melalui proses riset bersama serta eksplorasi teknik tekstil tradisional.

Dalam pelaksanaannya di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA.

Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda.

Sedangkan di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella bekerjasama mengembangkan koleksi bertajuk AU LARGE. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer.

Hasil dari kedua proses residensi kreatif tersebut dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.

Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, PINTU Residency sukses membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda.

Sebagai penutup, dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia menjadi langkah strategis untuk memperkuat kesinambungan program dan memperluas dampaknya bagi ekosistem mode.

Melalui inkubasi, akselerasi, dan residensi, PINTU berkomitmen terus membangun hubungan serta pengalaman yang melahirkan kemungkinan baru bagi industri mode Indonesia.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

DANA Ungkap Strategi Dorong Inklusi Keuangan dan Transformasi Digital

marketinginsight.id – DANA memperluas perannya sebagai representasi industri teknologi finansial Indonesia di panggung global melalui keterlibatan aktif dalam World Economic...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img