Monday, August 10, 2026

​Eksplorasi Wastra Nusantara dan Teknologi 3D Meriahkan JF3 2026

Must Read

marketinginsight.id – Panggung mode tahunan JF3 Fashion Festival 2026 kembali menjadi ajang perjumpaan gagasan, eksplorasi budaya, hingga inovasi teknologi mutakhir.

Tahun ini, panggung JF3 menghadirkan persilangan narasi yang kuat dari kreator mancanegara dan lokal—mulai dari desainer asal Paris hingga kolaborasi lintas benua yang mengeksplorasi warisan tekstil Nusantara.

Inisiatif tahunan Summarecon yang didukung oleh Pemprov DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Direktorat Jenderal KI Kemenkumham RI, serta BRImo ini terus mengukuhkan posisinya sebagai wadah diplomasi budaya dan industri kreatif berskala global.

Rohan Mirza: Estetika Digital dan “Darah Vampirik” dalam Koleksi Stonehaven

Desain berbasis teknologi 3D dan narasi internet kembali diusung oleh studio mode asal Paris, Rohan Mirza. Didirikan pada 2021, studio ini melanjutkan eksplorasi semesta imajiner lewat koleksi Musim Semi/Musim Panas (S/S) 2026 bertajuk Stonehaven.

Menjadikan reruntuhan kastil game Call of Duty sebagai latar simbolis yang diubah menjadi taman publik, Rohan Mirza merayakan ikatan emosional dan komunitas pilihan (chosen family) di era realitas digital.

“Di sini, senjata tak lagi mematikan tetapi senjata-senjata itu justru membela cinta, ikatan, dan kelembutan,” tulis keterangan resmi Rohan Mirza.

Koleksi ini menonjol lewat eksplorasi bentuk dan material yang unik, di mana persepsi armor “Nuketown” yang mulanya kaku diubah menjadi siluet-siluet bulat yang lembut menggunakan bahan cotton fleece.

Selain itu, kiasan vampir dihadirkan bukan sebagai representasi horor, melainkan sebagai metafora puitis akan keterikatan abadi, ingatan bersama, serta dahaga akan kedekatan emosional.

Keunikan tersebut kian diperkuat oleh sentuhan teknologi lewat kombinasi teknik pencetakan 3D yang halus dan narasi hyperrealism khas budaya populer internet.

30%70: Menyelami Harmoni Genderless dan Multikultural

Label independen asal Paris, 30%70, yang didirikan oleh desainer Prancis-Tiongkok Fengyuan DAI, membawa pendekatan puitis tentang keselarasan.

Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade di rumah mode ternama seperti Jean Paul Gaultier hingga Le 19M, alumnus finalis Hyères International Festival ini menawarkan busana genderless yang melampaui sekat budaya dan generasi.

Nama 30%70 memuat filosofi bahwa keseimbangan tidak selalu simetris. Harmoni lahir dari ketegangan halus antara aspek berlawanan: Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, hingga daya tahan kerajinan (craftsmanship) dan inovasi.

Karakter utama dari 30%70 memancar kuat lewat penggunaan siluet timeless dan material ramah lingkungan, yang mengeksplorasi bahan alami serta tekstil daur ulang melalui pemanfaatan teknik artisan yang presisi.

Balutan palet warna yang lembut turut menyoroti kenyamanan volume busana, menciptakan kesan kontemporer yang tetap terasa hangat dan intim saat dikenakan.

Seluruh elemen ini bermuara pada visi lifestyle yang diusungnya, yakni membangun ekosistem gaya hidup berkelanjutan tempat objek, budaya, dan fashion dapat saling berdialog secara harmonis.

DENIMITUP: “Fas & Delman”, Persilangan Budaya Indonesia dan Senegal

Salah satu kolaborasi paling unik di panggung JF3 lahir dari DENIMITUP. Merek yang digawangi oleh seniman denim asal Indonesia ini memamerkan koleksi hibrida yang mengawinkan elemen busana harian Indonesia dan Senegal.

Tajuk koleksi ini diilhami oleh simbol pergerakan historis kedua negara, yakni kuda—dikenal sebagai “Fas” dalam bahasa Wolof/Senegal dan “Delman” (kereta kuda) di Indonesia.

Keunggulan desain koleksi ini terletak pada penerapan teknik twist dan adopsi volume jubah tradisional djellaba, yang berhasil diterjemahkan ke dalam potongan streetwear harian yang dinamis serta kontemporer.

Pendekatan tersebut kian disempurnakan melalui perpaduan sentuhan artisan dan teknologi 3D, di mana pemodelan tiga dimensi serta cetakan khusus dimanfaatkan untuk membentuk siluet busana yang presisi tanpa mengabaikan kenyamanan dan kualitas bahan denim yang digunakan.

Louise Marcaud: Louiseguard, Catatan Romansa Musim Panas di Jakarta

Desainer asal Paris, Louise Marcaud, kembali membawa cinta mendalamnya terhadap tekstil Nusantara melalui koleksi Louiseguard (Spring/Summer 2027).

Terinspirasi dari kunjungannya ke Jakarta pada panggung JF3 2025 lalu, jebolan Chanel dan Jean Paul Gaultier ini merajut kenangan perjalanannya menjadi sebuah narasi busana.

Unsur lokal dalam koleksi ini terpancar kuat melalui penggunaan tekstil Nusantara, seperti kain lurik tenun dan motif batik yang diburu langsung di pasar-pasar tekstil Jakarta.

Deretan rancangannya juga sarat akan nostalgia keseharian yang diilhami oleh elemen grafis kemasan produk lokal, suvenir hotel, kartu pos vintage, hingga keanggunan estetika seni pertunjukan Sendratari Ramayana.

Seluruh narasi lokal tersebut kemudian dibingkai dalam prinsip upcycling, di mana koleksi diproduksi secara terbatas di Paris menggunakan kain sisa industri (deadstock atau dormant fabrics) sebagai wujud komitmen nyata terhadap industri mode yang berkelanjutan.

Kehadiran keempat label ini di JF3 Fashion Festival 2026 menegaskan bahwa mode tidak lagi sekadar tentang estetika luar, melainkan media naratif yang mampu menjembatani budaya, memori kolektif, dan emosi manusia di tengah era digitalisasi.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

usmile Hadirkan Pasta Gigi Glitter Ungu Siap Atasi Gigi Kuning

marketinginsight.id – Penampilan fisik sering kali menjadi fokus utama perawatan kecantikan, namun rupanya kondisi gigi menyimpan kekhawatiran tersendiri yang cukup...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img