marketinginsight.id – Perusahaan fintech POSe mengumumkan keberhasilannya memangkas waktu rekayasa teknologi dari delapan bulan menjadi sembilan minggu menggunakan Kiro, alat pengembangan berbasis AI generatif dari Amazon Web Services.
Langkah ini membantu penyedia layanan bagi 60.000 pelaku usaha di 31 provinsi tersebut memodernisasi 11 aplikasi inti, menyelesaikan proyek enam bulan lebih cepat dari jadwal.
Guna menunjang operasional merchant, POSe menyediakan mesin Electronic Data Capture pintar dan sistem kasir digital yang menerima pembayaran QRIS, kartu kredit, kartu debit, hingga dompet digital.
Selain itu, pengelolaan usaha disederhanakan lewat sistem manajemen multi-cabang terpusat untuk menyinkronkan menu, harga, dan promosi secara instan dari satu dasbor.
Dengan beban kerja lebih dari 108.000 terminal pembayaran yang memproses 28 juta transaksi harian, POSe membutuhkan aplikasi yang adaptif.
Sayangnya, praktik penulisan kode yang tidak konsisten antartim selama bertahun-tahun sempat memicu fragmentasi sistem serta memperumit kepatuhan regulasi.
Kehadiran Kiro kemudian menjadi solusi efektif atas tantangan teknis tersebut. Lewat teknologi ini, tim pengembang memodernisasi berbagai sistem mulai dari kasir digital, Payment Point Online Banking, manajemen inventaris, hingga sistem penjualan tiket.
Platform tersebut membantu tim memperbaiki struktur kode internal dan merapikan kode lama untuk membangun fondasi sistem yang lebih bersih.
Dampaknya, waktu kerja pengerjaan modernisasi ter pangkas hingga 80 persen, dari rata-rata tiga minggu menjadi hanya tiga hari.
Chief Business and Technology Officer POSe, Erwin Fransiscus, menegaskan bahwa pasar pembayaran di Indonesia bergerak sangat dinamis.
Menurut Fransiscus, percepatan pembaruan sistem merupakan bagian dari strategi terencana agar perusahaan senantiasa relevan menjawab kebutuhan pasar.
Proses adopsi teknologi ini diawali dari fase uji coba pada Februari 2026. Keberhasilan pada tahap awal memberi keyakinan untuk menerapkan Kiro ke seluruh pengembang sebulan kemudian dengan dukungan Metrodata Electronics.
Langkah strategis tersebut menyatukan lebih dari 50 pengembang ke dalam satu lingkungan kerja terpusat. Hasilnya, visibilitas penggunaan alat AI menjadi lebih transparan, didukung manajemen standar dan penagihan yang terkonsolidasi.
Sebelum merancang kode, para pengembang kini menerapkan pendekatan berbasis spesifikasi untuk menentukan kebutuhan, desain, serta daftar tugas. Alur kerja ini memastikan ruang lingkup proyek telah disepakati bersama sebelum tahap produksi dimulai.
Tim juga memanfaatkan dokumen panduan hasil AI generatif Kiro agar setiap personel bergerak selaras dengan standar. Dokumen ini terhubung ke sistem lama melalui protokol integrasi dan model AI pendukung.
Country Manager AWS Indonesia, Anthony Amni, menilai Kiro dirancang untuk membantu tim mengubah ide menjadi perangkat lunak siap produksi secara cepat.
Menurut Amni, efisiensi ini dicapai tanpa mengorbankan kualitas atau kendali sistem seiring perkembangan skala bisnis.
Amni menambahkan bahwa langkah POSe merupakan contoh nyata pemanfaatan AI generatif untuk menuntaskan tech debt melalui ketelitian rekayasa teknologi. Melalui konsolidasi tim menggunakan Kiro, portofolio aplikasi berhasil diperbarui hanya dalam hitungan minggu.
Melihat hasil positif tersebut, POSe berencana memperluas penggunaan Kiro untuk seluruh alur penulisan kode, dokumentasi, hingga peninjauan kode. Ke depan, praktik berbasis AI ini akan diterapkan ke lebih banyak tim dan fungsi kerja operasional lainnya.
Redaksi



