marketinginsight.id – Navigasi bisnis otomotif dan keselamatan berkendara kini bergeser dari sekadar performa mesin menuju keandalan komponen pendukung mobilitas harian. Di tengah tingginya angka kecelakaan lalu lintas nasional, kesiapan armada kendaraan serta visibilitas pengemudi menjadi faktor krusial yang menentukan keselamatan di jalan. Fenomena ini membuka ruang pertumbuhan besar bagi ekosistem aftermarket yang berfokus pada standar kelayakan komponen mobilitas.
Dinamika industri otomotif saat ini menuntut sinergi berkelanjutan antara regulasi pemerintah, inovasi manufaktur, dan kesadaran konsumen. Tantangan cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi, secara langsung memengaruhi efektivitas pandangan pengemudi hingga meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya. Situasi ini mendorong para pelaku industri untuk memperkuat edukasi pasar terkait pentingnya pemeliharaan komponen kendaraan secara berkala.
Transformasi teknologi mobilitas tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada penyediaan solusi yang responsif terhadap kebutuhan riil pengguna. Kolaborasi strategic antara pemangku kepentingan dan penyedia teknologi otomotif menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem transportasi yang aman. Pemahaman mendalam mengenai kelayakan komponen serta pandangan visual pengemudi kini menjadi fondasi penting dalam menekan angka risiko di jalan raya.
Hujan mengubah lebih dari sekadar kondisi jalan. Dalam hitungan detik, air yang menempel di kaca depan dapat mengubah seberapa jelas seorang pengemudi membaca kendaraan di depannya, marka jalan, pengguna jalan lain, maupun perubahan situasi di sekitarnya.
Di titik inilah keselamatan berkendara bermula dari sesuatu yang sangat mendasar, yaitu kemampuan untuk melihat. Sebelum pengemudi dapat menilai risiko dan menentukan respons, ia terlebih dahulu harus mampu menangkap situasi yang ada di hadapannya.
Secara global, keselamatan jalan masih menjadi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dengan jutaan lainnya mengalami cedera.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan di jalan tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor. Hal ini membutuhkan kesiapan yang saling terhubung antara pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan perjalanan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., menekankan bahwa budaya keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan lulus uji tipe atau laik jalan. Keselamatan harus dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi, hingga masa operasional.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan RI, Heri Prabowo, dalam diskusi memperingati 100 tahun inovasi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Selanjutnya, pejabat terkait menekankan bahwa keselamatan jalan bertumpu pada tiga hal: kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung. Ketiganya harus berjalan bersama, dengan sinergi pemerintah, industri, dan pengguna jalan sebagai kuncinya.
“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Di antara berbagai aspek yang mendukung keselamatan berkendara, visibilitas menjadi salah satu hal yang kerap luput dari perhatian. Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa sebagian besar keputusan pengemudi bergantung pada informasi visual.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal,” ujar Yannes.
Menurut Yannes, hujan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen. Sementara itu, kaca yang kotor dapat menurunkan efektivitas kontrol visual pengemudi.
Ketika air, kabut, atau sisa sapuan menurunkan kontras pandangan, objek di jalan dapat terdeteksi lebih lambat. Akibatnya, waktu dan jarak yang tersedia bagi pengemudi untuk mengenali risiko dan mengambil keputusan juga menjadi lebih terbatas.
Pandangan tersebut juga menempatkan industri pada peran penting dalam membangun keselamatan berkendara. Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengamini bahwa teknologi memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan.
Namun, manfaat teknologi baru benar-benar terasa ketika inovasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata manusia.
“Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia,” ujar Pirmin.
Ia menambahkan, dalam mobilitas hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi.
Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan Bosch di industri otomotif selama lebih dari satu abad. Tahun 2026 menandai 100 tahun teknologi wiper Bosch, yang menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kebutuhan sederhana dalam berkendara terus mendorong inovasi dari waktu ke waktu.
“Selama 100 tahun, kebutuhan pengemudi mungkin berkembang seiring perubahan kendaraan dan teknologi, tetapi satu hal tetap sama: manusia membutuhkan teknologi yang dapat diandalkan untuk membantu mereka berkendara dengan lebih aman,” tambah Pirmin.
Sebab itu, inovasi bagi Bosch bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi. Inovasi juga mencakup pemahaman tentang bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi penggunanya.
Memperhatikan Hal-hal yang Sering Terlewat
Dari sisi teknis, penurunan performa wiper sering kali terjadi secara bertahap dan tidak selalu langsung disadari pengemudi. Sapuan yang meninggalkan garis air, suara berdecit, atau gerakan yang tidak mulus merupakan tanda awal penurunan fungsi.
Selain itu, bagian kaca yang tidak lagi dibersihkan secara merata juga menjadi indikasi bahwa wiper mulai kehilangan kemampuannya dalam menjaga pandangan.
Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, Griselda Iwandi, mengatakan bahwa kondisi wiper sebaiknya diperiksa secara berkala, sama seperti komponen kendaraan lainnya.
“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan,” ujar Griselda.
Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian.
Menurut Griselda, memastikan wiper bekerja optimal juga tidak hanya soal kondisi karetnya. Kesesuaian produk dengan kendaraan, pemasangan yang tepat, serta keaslian produk turut menentukan kinerja wiper.
Oleh karena itu, konsumen perlu memperhatikan spesifikasi dan memilih produk dari kanal yang terpercaya. Hal ini penting agar wiper dapat bekerja sebagaimana mestinya saat dibutuhkan.
Sementara itu, sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan konsumen, distributor memiliki peran penting dalam memastikan informasi produk tersampaikan dengan tepat.
President Director PT Berkat Otopart Indonesia, Yoke Pribadi, menilai edukasi perlu mencakup kesesuaian produk, keaslian, serta kanal pembelian yang tepercaya. Langkah ini bertujuan agar konsumen dapat mengambil keputusan yang tepat dan turut mendukung keselamatan di jalan.
Pada akhirnya, menjaga visibilitas bukan hanya persoalan mengganti satu komponen kendaraan. Ini adalah kebiasaan kecil yang menjadi bagian dari kesiapan yang lebih besar sebelum seseorang memasuki jalan.
Semangat tersebut juga diterjemahkan oleh Bosch melalui Care for Sight. Program ini merupakan sebuah inisiatif yang membawa perhatian terhadap pentingnya visibilitas dari sisi produk menuju kontribusi yang lebih nyata bagi masyarakat.
Dalam momentum 100 tahun teknologi wiper Bosch, Bosch bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara (YTBN) turut menghadirkan kontribusi berupa wiper untuk mendukung kendaraan ambulans. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membantu menjaga kesiapan kendaraan yang memiliki peran penting dalam situasi darurat.
“Kontribusi tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh kebutuhan kendaraan darurat,” jelas Griselda.
Sebaliknya, aksi ini menjadi bagian dari komitmen Bosch untuk terus mendorong kesadaran bahwa kesiapan kendaraan merupakan bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih luas.
Semangat untuk membangun kepedulian terhadap keselamatan inilah yang perlu terus diperkuat. Penguatan tersebut tidak hanya melalui inovasi dan kontribusi industri, tetapi juga melalui kebiasaan masyarakat dalam menjalani setiap perjalanan.
Bagi Bosch, komitmen ini juga tercermin dalam semangat Beres, Bosch, yakni menghadirkan solusi andal yang membantu pengguna menjalani keseharian dengan lebih mudah dan tenang.
Dalam konteks mobilitas, semangat tersebut diwujudkan melalui teknologi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna untuk mendukung kesiapan kendaraan serta perjalanan yang lebih aman dan nyaman.
Redaksi



