Wednesday, September 9, 2026

Deteksi Dini Gangguan Hormon dan Risiko Diabetes Menurut Pakar

Must Read

marketinginsight.id – Tren kesadaran kesehatan masyarakat modern kini bergeser dari sekadar pengobatan menjadi langkah pencegahan yang lebih terukur.

Di tengah ritme kerja yang dinamis, perubahan kecil pada fisik sering kali terabaikan sebagai dinamika produktivitas harian.

Sektor layanan kesehatan terus beradaptasi dalam memberikan edukasi komprehensif bagi masyarakat modern.

Pemahaman mengenai sinyal alami tubuh menjadi instrumen penting dalam menjaga investasi kesehatan jangka panjang.

Pendekatan preventif berbasis bukti ilmiah kini menjadi standar baru dalam pengelolaan kualitas hidup secara menyeluruh.

Keseimbangan metabolisme serta fungsi hormon memainkan peranan krusial bagi ketahanan fisik pekerja maupun profesional.

Tubuh sebenarnya tidak pernah berhenti memberi sinyal mengenai kondisi kesehatan internal secara berkala.

Stamina yang menurun, tubuh mudah lelah, perubahan fungsi seksual, hingga lonjakan gula darah sering kali hanya dianggap sebagai bagian dari proses penuaan.

Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada sistem hormon maupun metabolisme tubuh yang memerlukan perhatian medis.

Pembahasan mendalam mengenai fenomena ini mengemuka dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 yang digelar pada bulan Juli 2026 lalu.

Acara bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” tersebut menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp. PD-KEMD, FINASIM.

Kehadiran para pakar ini memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan fisik.

Di sisi lain, penurunan kadar testosteron pada pria secara alami memang terjadi seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan testosteron dan free testosterone semakin nyata setelah seseorang memasuki usia 50 tahun.

Meskipun demikian, perubahan yang menetap dan disertai keluhan fisik tidak selalu perlu dianggap sebagai hal normal. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau kekurangan testosteron pada pria.

Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1 persen populasi pria secara umum. Prevalensi tersebut meningkat drastis dari 0,1 persen pada pria usia 40–49 tahun menjadi 5,1 persen pada usia 70–79 tahun.

Angka kejadian gangguan ini juga tercatat lebih tinggi pada pria yang mengalami obesitas atau metabolic syndrome.

Menanggapi hal itu, dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM yang berpraktik di UKRIDA Primaya Hospital meminta masyarakat lebih peka.

Dokter spesialis tersebut menekankan bahwa pria perlu mewaspadai perubahan fisik yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penurunan stamina, rasa lelah berkepanjangan, hingga gangguan fungsi seksual merupakan sinyal penting yang tidak boleh diabaikan.

Kekurangan testosteron bukan sekadar persoalan umur atau fungsi reproduksi, melainkan berkaitan erat dengan sistem kesehatan secara menyeluruh.

Oleh sebab itu, evaluasi medis secara tepat sangat diperlukan daripada sekadar menganggapnya dampak penuaan alami.

Situasi serupa juga dijumpai pada kasus perkembangan penyakit diabetes di tengah masyarakat. Gangguan metabolisme ini sering kali berkembang tanpa gejala nyata sehingga penderita baru menyadarinya setelah timbul komplikasi.

Data Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Dampaknya, risiko komplikasi berat dapat berkembang sebelum langkah pengobatan medis sempat dimulai.

Merujuk data IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia berada pada peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes usia 20–79 tahun. Negeri ini juga menempati posisi ketiga dunia untuk jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.

Menjelaskan kondisi tersebut, dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat memberikan pandangannya. Dokter spesialis ini menegaskan bahwa diabetes tidak cukup dipandang sebagai persoalan tingginya kadar gula darah semata.

Proses penyakit ini melibatkan berbagai mekanisme serta organ tubuh, sehingga pengelolaannya menuntut pemantauan risiko pasien secara menyeluruh. Pendekatan medis harus bergeser dari reaktif menjadi lebih proaktif guna melindungi fungsi jantung serta ginjal sejak dini.

Mekanisme diabetes tipe 2 sendiri melibatkan pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun.

Keberhasilan penanganannya tidak hanya diukur dari angka laboratorium, melainkan juga pencegahan komplikasi organ.

Arah pengelolaan diabetes modern kini menitikberatkan pada tindakan komprehensif, protektif terhadap organ, berbasis teknologi, serta disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Pertimbangan medis mencakup kondisi organ vital, berat badan, risiko komplikasi, hingga preferensi personal pasien.

Tujuan utama pengelolaan kesehatan adalah menjaga fungsi organ, mencegah komplikasi, mempertahankan produktivitas, serta memastikan kualitas hidup jangka panjang. Keseimbangan angka hormon dan kadar gula darah menjadi bagian terintegrasi dari target tersebut.

Melalui pendekatan menyeluruh ini, Primaya Hospital mendorong masyarakat untuk tidak terburu-buru menganggap perubahan tubuh sebagai hal wajar.

Deteksi dini membuka peluang penanganan yang tepat dan personal demi menjaga kualitas hidup secara berkelanjutan.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

WhatsApp Hadirkan Fitur Business AI Gratis untuk UMKM

marketinginsight.id – Melalui acara WhatsApp Sessions yang berlangsung selama tiga hari di Indonesia, WhatsApp kembali menegaskan komitmennya untuk memberdayakan pelaku...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img