marketinginsight.id – Vice President Meta Asia Pacific, Benjamin Joe, memaparkan pesatnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta fitur terbaru Meta bagi kreator dan pelaku usaha di kawasan Asia Pasifik.
Langkah ini menjadi relevan karena proses penemuan produk oleh konsumen di wilayah tersebut kini didominasi oleh media sosial.
Pihaknya menegaskan bahwa Meta tidak sekadar membangun koleksi produk, melainkan sebuah ekosistem utuh yang membantu masyarakat menemukan layanan dalam keseharian.
Integrasi tersebut menghubungkan berbagai tahapan belanja, mulai dari livestream, rekomendasi kreator, hingga interaksi langsung melalui fitur chat.
Meta terus mengusung misi global untuk menjadi platform utama dalam mengakselerasi pertumbuhan bisnis dari berbagai skala.
Keunikan pasar Asia Pasifik menjadi dorongan utama karena perilaku konsumen di kawasan ini sudah terbentuk sangat kuat.
Data menunjukkan separuh konsumen di Asia Pasifik aktif menemukan dan membeli produk langsung melalui media sosial.
Selain itu, sekitar 80 persen konsumen rutin menyaksikan livestream setiap minggunya dengan tingkat kepercayaan tinggi terhadap rekomendasi kreator.
Joe menegaskan pentingnya kesetaraan akses terhadap teknologi modern ini bagi seluruh pelaku usaha. Baik pengusaha perorangan, UMKM, hingga pengiklan skala besar kini dapat memanfaatkan perangkat AI yang sama.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini telah bergeser dari sekadar tahap uji coba menjadi infrastruktur utama bisnis.
Para mitra bisnis tidak lagi berspekulasi, melainkan fokus pada kecepatan integrasi AI dalam kampanye pemasaran dan layanan pelanggan.
Guna mendukung efisiensi tersebut, Meta memanfaatkan Large Language Model (LLM) untuk meningkatkan presisi sistem penentuan peringkat iklan. Hasilnya, relevansi dan angka konversi penjualan di Facebook maupun Instagram mengalami peningkatan signifikan.
Layanan periklanan Meta pun mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan yang melampaui pertumbuhan rata-rata industri sejenis.
Bahkan, sekitar sembilan juta usaha kecil telah aktif memanfaatkan fitur AI generatif untuk memproduksi materi promosi.
Secara akumulatif, pendapatan perusahaan mengalami kenaikan sebesar 28 persen secara tahunan. Pencapaian ini didukung oleh lebih dari 3,6 miliar pengguna aktif harian di seluruh ekosistem aplikasi Meta.
Perilaku belanja masyarakat Asia Pasifik juga tercatat sangat dinamis, terutama saat memasuki momen promo akhir tahun.
Sebanyak 69 persen konsumen berbelanja pada momen 12.12, melampaui partisipasi pada ajang Black Friday.
Selain itu, penetrasi transaksi digital di media sosial kawasan ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Konsumen yang menemukan produk via platform Meta bahkan tercatat belanja 1,3 kali lebih banyak.
Untuk memperkuat transaksi, Meta menghadirkan format iklan berbasis livestream yang dapat diaktifkan dengan cepat tanpa biaya platform. Fitur ini dirancang untuk menjangkau audiens Asia yang mayoritas rutin menonton siaran langsung.
Di sisi lain, program affiliate diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai mitra e-dagang besar di Asia Tenggara. Lebih dari 10 juta kreator telah terhubung dan menghasilkan komisi bernilai puluhan juta dolar.
Pengalaman pengguna juga dipermudah melalui fitur tagging produk secara langsung pada konten video pendek atau Reels. Fitur ini dilengkapi label transparansi untuk memastikan kejelasan informasi komisi bagi konsumen.
Bagi sektor pelayanan, Meta menghadirkan Business Agent berbasis AI yang sanggup melayani operasional pelanggan selama 24 jam nonstop. Agen pintar ini dapat disesuaikan dengan identitas merek serta terintegrasi langsung ke berbagai platform e-dagang.
Menanggapi isu keamanan, platform ini mengimbangi kecanggihan teknologi dengan pengawasan ketat terhadap potensi kejahatan siber.
Ratusan juta iklan penipuan dan jutaan akun tak resmi telah ditindak tegas bekerja sama dengan aparat hukum internasional.
Komitmen inklusivitas juga diwujudkan melalui program Small Business Growth Academy bagi ribuan pelaku UMKM dan petani.
Selain itu, inovasi kacamata pintar berteknologi AI mulai diperluas untuk membantu penyandang disabilitas penglihatan di kawasan Asia.
Redaksi



