Wednesday, September 9, 2026

Survei Cloudera Ungkap Banyak Perusahaan Tunda Proyek AI

Must Read

marketinginsight.id – Cloudera merilis hasil survei global bertajuk The Great AI Re-Architecture. Laporan tersebut mengungkapkan adanya perubahan mendasar pada arsitektur data enterprise IT untuk memenuhi tuntutan adopsi AI.

Berdasarkan tanggapan 1.500 profesional IT global, arsitektur data lama kian membatasi pengembangan AI. Padahal, integrasi AI telah menjadi arus utama di berbagai lini bisnis perusahaan.

Meskipun 77% organisasi aktif menggunakan AI, sebanyak 95% di antaranya sempat menunda atau membatalkan proyek AI. Kendala utama dipicu oleh hambatan tata kelola data, kepatuhan, serta regulasi.

Guna mengatasi persoalan tersebut, 72% organisasi merasa arsitektur data saat ini memerlukan perombakan signifikan. Infrastruktur tradisional dinilai kurang memadai untuk menopang kebutuhan AI modern di masa depan.

Fenomena ini menandai transisi besar dari arsitektur data lama menuju lingkungan hibrida. Pendekatan baru ini memungkinkan perusahaan menjalankan AI tepercaya langsung di pusat penyimpanan data.

Chief Technology Officer Cloudera, Sergio Gago, menegaskan bahwa era AI memaksa organisasi memikirkan kembali fondasi infrastrukturnya. Arsitektur untuk analitik tradisional tidak dirancang untuk memenuhi skala, tata kelola, dan fleksibilitas AI.

Penilaian senada disampaikan Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta. Perusahaan lokal kini menyadari bahwa infrastruktur lama tidak mampu menangani tingginya biaya, latensi, dan skala workload AI.

Akibatnya, keberhasilan perusahaan di Indonesia kini bergantung pada optimalisasi serta tata kelola data. Langkah mitigasi dilakukan melalui peralihan dari silo data ke arsitektur data hibrida.

Perluasan penggunaan AI di berbagai lini bisnis turut memberikan tekanan besar pada infrastruktur jaringan. AI kini tidak lagi terbatas pada proyek uji coba, melainkan telah tertanam dalam operasional harian.

Sebanyak 75% responden mengakui integrasi AI mengubah praktik penyimpanan dan arsitektur data perusahaan. Di samping itu, 84% organisasi melaporkan lonjakan biaya infrastruktur akibat tingginya beban kerja AI.

Kondisi tersebut menjadikan tata kelola data sebagai fondasi utama bagi keberhasilan AI enterprise. Sebesar 73% responden merasa tata kelola data menjadi jauh lebih rumit setelah menerapkan AI.

Bahkan, lebih dari separuh responden terpaksa menunda lebih dari enam proyek AI akibat kendala regulasi. Hambatan ini kian berat karena 97% organisasi rutin memindahkan data antar-lingkungan setiap bulan.

Untuk menyeimbangkan performa dan biaya, arsitektur hibrida kini mulai diadopsi sebagai standar baru. Sebanyak 66% responden telah memindahkan beban kerja AI dari public cloud kembali ke private cloud atau on-premises.

Ke depan, perusahaan memprioritaskan investasi fleksibel di berbagai lingkungan komputasi. Seperempat responden berencana menerapkan strategi hybrid-first dalam dua tahun mendatang.

Survei ini digagas Cloudera bersama Wakefield Research terhadap 1.500 arsitek data dan infrastruktur IT. Riset dilakukan sepanjang Juni 2026 di sembilan pasar utama wilayah Amerika, EMEA, dan APAC.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

VIDA Ingatkan Masyarakat Waspada Penipuan Digital Deepfake

marketinginsight.id – Ruang digital kini telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian masyarakat. Seiring dengan meningkatnya aktivitas pada ekosistem...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img