marketinginsight.id – Peta persaingan bisnis global kini menuntut pelaku industri untuk tidak sekadar mengejar profitabilitas semata. Transformasi strategi korporasi yang mengintegrasikan nilai keberlanjutan menjadi kunci utama dalam menjaga relevansi pasar.
Langkah ini tercermin dari komitmen sektor perbankan yang kian aktif menyalurkan pembiayaan dan hibah berbasis dampak sosial-lingkungan. Pendekatan sirkular terbukti mampu menciptakan ekosistem bisnis yang resilient sekaligus memberikan deviden ekonomi bagi komunitas rentan.
Bank DBS Indonesia mengambil peran strategis ini melalui pendampingan berkelanjutan bagi wirausaha sosial di Tanah Air. Inisiatif tersebut menghadirkan solusi konkret atas ancaman krisis lingkungan sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Krisis lingkungan dan kesenjangan ekonomi yang kian mendesak membutuhkan solusi bisnis yang dapat menjaga bumi sekaligus mengangkat taraf hidup masyarakat rentan. Melihat tantangan ini, Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation terus memperkuat ekosistem social enterprises berbasis ekonomi sirkular melalui DBS Foundation Grant.
Program ini memberikan pendampingan, akses jejaring, hingga peluang kolaborasi bagi para pelaku usaha berdampak. Langkah tersebut ditempuh agar para pelaku usaha dapat memperbesar skala bisnisnya secara berkelanjutan.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah isu pengelolaan limbah yang turut berdampak pada keberlanjutan ekonomi komunitas agraris dan pesisir. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat 21,85 persen dari 56,63 juta ton sampah tahunan Indonesia belum terkelola dengan maksimal.
Di saat bersamaan, Indonesia memiliki 17,25 juta petani gurem dan lebih dari 90 persen nelayan skala kecil yang berada dalam kondisi rentan. Dua DBS Foundation Grantees, Parongpong RAW Lab dan MYCL, membuktikan bahwa bisnis dapat memberikan solusi ganda atas persoalan tersebut.
Keduanya berhasil mengurangi limbah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru untuk memperkuat penghidupan masyarakat sekitar. Pendekatan inovatif ini melahirkan rantai nilai baru yang inklusif bagi rantai pasok lokal.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika menegaskan kepercayaan perusahaan bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Melalui DBS Foundation Grant Program, pihak bank ingin membantu social enterprises memperkuat fondasi bisnis dan memperbesar dampak.
Mona Monika menambahkan bahwa Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan inovasi lokal dalam menjawab isu lingkungan. Inovasi tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan, petani, dan masyarakat di rantai nilai rentan.
Sebagai DBS Foundation Grantee 2025, Parongpong RAW Lab mendapatkan dukungan untuk memperkuat Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program. Program ini menyasar wilayah Cilincing di Jakarta serta Muncar di Banyuwangi.
Program ini dirancang untuk mengubah jaring ikan bekas atau ghost net menjadi material bernilai tambah. Selain itu, program turut membuka akses pendapatan tambahan, pelatihan, dan keterlibatan ekonomi komunitas pesisir.
Dalam dua tahun, program menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net serta mendukung lebih dari 600 nelayan. Target lainnya mencakup keterlibatan 1.000 anggota komunitas dan pendirian dua microfactory untuk memperkuat produksi lokal.
Hingga Agustus 2026, Parongpong telah menyelesaikan studi kelayakan di kedua lokasi dengan melibatkan 105 responden. Pengumpulan material telah mencapai lebih dari 4.500 kg ghost net atau sekitar 46 persen dari target 2026 dengan melibatkan 179 nelayan.
Program edukasi juga telah menjangkau 150 siswa di wilayah Muncar. Dari sisi infrastruktur, platform digital traceability SISA telah digunakan untuk mencatat pengumpulan jaring.
Kapasitas pengolahan kini meningkat menjadi unit operasional 100 liter di Bandung. Pengembangan produk menghasilkan Circulites, seri lampu meja dengan diffuser dari Prototiles® berbahan jaring bekas.
CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid mengungkapkan dukungan hibah sangat membantu membangun sistem yang menyeluruh. Sistem tersebut mencakup pengumpulan material, edukasi, peningkatan kapasitas teknologi, hingga pengembangan produk pasar.
Rendy Aditya Wachid menambahkan bahwa dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah semata. Komunitas pesisir kini dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi lebih baik.
Sementara itu, MYCL yang merupakan DBS Foundation Grantee 2016 dan 2018 menjadi contoh sukses perbesaran skala inovasi. Berawal dari material berbasis mycelium untuk limbah pertanian, MYCL kini memiliki portofolio mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer.
Inovasi tersebut mendukung transisi industri menuju material rendah dampak. Produk ini sekaligus membuka peluang nilai tambah bagi petani dan pekerja hijau di rantai pasok biomaterial.
Dukungan berkelanjutan memperkuat fondasi bisnis MYCL, termasuk pendaftaran dua paten yang dikabulkan pada 2019 dan 2023. MYCL juga mengantongi tiga merek dagang serta sertifikasi B Corp sebagai tata kelola dampak perusahaan.
Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara. Aplikasi material dikembangkan untuk fesyen, insulasi bangunan, hingga teknologi bernilai tambah tinggi.
MYCL telah menjalin kerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas. Kemitraan ini menunjukkan peningkatan penerimaan pasar global terhadap biomaterial dari Asia Tenggara.
Dari sisi lingkungan, pada 2025 MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa. Langkah ini menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa.
Perusahaan juga meng-upcycle 1,70 ton limbah substrat kembali ke rantai nilai. Dibandingkan kulit hewan, produksi biomaterial mencatat penghematan 39.887 liter air dan penurunan emisi 27,5 ton CO2.
Melalui model produksi sirkular, MYCL memberi manfaat bagi lebih dari 200 petani. Lebih dari 600 penerima manfaat tidak langsung dan 60 lapangan kerja hijau turut tercipta di MYCL Eco Factory.
Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo menjelaskan bahwa dukungan hibah membantu memperkuat fondasi bisnis berdampak. Pengolahan limbah pertanian menjadi biomaterial bertujuan menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak.
Ronaldiaz Hartantyo menegaskan komitmen untuk membangun rantai nilai yang bermanfaat. Manfaat tersebut ditujukan bagi petani, pekerja, dan industri yang bergerak menuju masa depan sirkular.
Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta hibah kepada 160 social enterprises di Asia. Khusus di Indonesia, alokasi hibah mencapai lebih dari SGD4 juta untuk 20 bisnis berdampak.
Dukungan ini menjadi bagian komitmen meningkatkan kualitas hidup komunitas rentan. Upaya dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, inklusi keuangan dan digital, serta penguatan usaha berkelanjutan.
Head of DBS Foundation Karen Ngui menegaskan bahwa dukungan ini mendorong pertumbuhan purpose driven businesses. Dukungan memungkinkan pelaku usaha memperbesar skala bisnis sekaligus memperluas dampaknya.
Karen Ngui menambahkan bahwa business-led solutions berperan penting membangun ketahanan sosial ekonomi. Hal tersebut disampaikan saat mengunjungi fasilitas Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab di Bandung.
Kisah Parongpong RAW Lab dan MYCL mencerminkan komitmen Impact Beyond Banking. DBS Foundation terus mendukung social enterprises dalam mengembangkan inovasi sosial dan lingkungan.
Melalui hibah dan pendampingan, solusi untuk membuka peluang ekonomi komunitas pesisir dan petani terus diperluas. Langkah ini diharapkan mampu mendorong industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Redaksi



