Komodo Water Raih Penghargaan UNIDO WTCA Blue Economy 2026

Must Read

marketinginsight.id – Pemanfaatan energi terbarukan di wilayah pesisir dan kepulauan kecil kini menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi biru yang berkelanjutan. Langkah ini tidak hanya menyelesaikan persoalan krisis air bersih, tetapi juga menjaga stabilitas rantai pasok sektor perikanan tangkap.

Di berbagai pelosok Nusantara, ketersediaan es balok dan air siap konsumsi kerap menjadi kendala utama yang menghambat peningkatan kesejahteraan nelayan lokal. Kehadiran teknologi ramah lingkungan berbiaya terjangkau menjadi solusi krusial untuk mengatasi ketimpangan akses energi dan sumber daya dasar tersebut.

Inovasi berbasis komunitas yang memadukan tenaga surya dengan kebutuhan vital masyarakat pesisir kini berhasil mencuri perhatian dunia internasional. Keberhasilan ini membuktikan bahwa model bisnis sosial dari kawasan timur Indonesia mampu bersaing dan mereplikasi solusinya di tingkat global.

Komodo Water, sebuah perusahaan sosial asal Indonesia yang memanfaatkan energi surya untuk memproduksi air minum dan es balok, meraih penghargaan dalam ajang UNIDO-WTCA Blue Economy Global Call 2026. Capaian pada kategori “Blue Renewable Energy” ini membuka peluang pengembangan bisnis melalui dukungan teknis dan akses jaringan internasional.

Inisiatif ini diselenggarakan oleh UNIDO ITPO Italy bekerja sama dengan World Trade Centers Association (WTCA). Melalui platform pengembangan bisnis WTCA, para pemenang dapat mengakses berbagai program bisnis dan menjangkau pasar baru.

Komodo Water menjadi salah satu dari enam pemenang terpilih dari total 300 pendaftaran yang berasal dari 85 negara. Penghargaan diserahkan pada 30 September 2026 dalam acara Euro-Mediterranean Water Forum di Roma, Italia.

Pendekatan perusahaan ini menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir di Nusa Tenggara Timur. Keterbatasan akses terhadap air bersih dan es untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan ikan kini mulai teratasi.

Bagi para nelayan, ketersediaan es yang dapat diandalkan sangat penting untuk mempertahankan kualitas ikan sebelum dipasarkan. Kehadiran fasilitas pengolahan ini menjaga nilai jual produk perikanan tetap tinggi.

Di Bari, Kabupaten Manggarai Barat, fasilitas operasional dilengkapi 58 panel surya untuk mengolah air laut dan air payau menjadi air minum. Peralatan pembuatan es di lokasi tersebut memiliki kapasitas produksi satu ton setiap 24 jam.

Produksi secara lokal membantu mengurangi biaya transportasi pasokan dari luar daerah. Langkah ini sekaligus memangkas ketergantungan masyarakat desa terhadap distribusi logistik darat maupun laut.

“Air minum dan es merupakan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat pesisir,” ujar Shana Fatina, Pendiri sekaligus CEO Komodo Water. Ia menambahkan bahwa pihak perusahaan mengembangkan solusi tenaga surya yang dapat dioperasikan bersama oleh masyarakat.

Anggota masyarakat setempat turut berpartisipasi aktif dalam operasional dan penyaluran produk harian. Perusahaan ini juga membuka peluang penghasilan bagi perempuan setempat melalui kegiatan penjualan kembali air minum dan es.

Melalui Global Call, para pemenang akan mengikuti program akselerasi di bawah naungan UNIDO-WTCA. Dukungan yang diberikan mencakup pendampingan, pengembangan jaringan, serta akses hubungan dengan calon mitra bisnis.

UNIDO berkontribusi melalui kerja sama teknis dan peluang pelaksanaan proyek percontohan di negara-negara mitra. Sementara itu, jaringan global WTCA membantu memperluas akses pasar serta meningkatkan visibilitas di tingkat internasional.

“Solusi yang telah terbukti berjalan di masyarakat membutuhkan mitra dan akses pasar agar dapat berkembang,” ujar Cristina Sbaizero, CEO WTC Trieste sekaligus Anggota Dewan WTCA. Pihaknya membantu membangun koneksi tersebut melalui jaringan bisnis internasional yang mencakup lebih dari 300 entitas bisnis World Trade Center di hampir 100 negara.

Melalui kolaborasi dengan UNIDO, WTCA memadukan dukungan teknis dengan kebutuhan pengembangan bisnis para inovator. Langkah ini mempercepat komersialisasi teknologi ramah lingkungan ke skala yang lebih luas.

Fatina menyampaikan bahwa kesempatan ini membantu perusahaan menjajaki penerapan solusinya di berbagai belahan dunia. Banyak kawasan kepulauan lain yang menghadapi tantangan serupa terkait air dan energi.

“Kami berharap dapat terhubung dengan mitra di seluruh dunia yang memahami kebutuhan masyarakat pesisir dan komunitas pulau-pulau kecil,” ujar Fatina. Kemitraan ini diperlukan untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis tetap selaras dengan kondisi masyarakat setempat.

UNIDO-WTCA Blue Economy Global Call 2026 bertujuan mengidentifikasi solusi yang siap diterapkan dan dikembangkan dalam skala lebih luas. Fokus perhatian diberikan kepada negara berkembang dan negara berkembang kepulauan kecil (Small Island Developing States/SIDS).

Program ini mencakup enam kategori utama, mulai dari energi terbarukan hingga teknologi biru dan bioteknologi. Pendekatan holistik ini diharapkan mampu mempercepat transformasi ekonomi berbasis kelautan secara global.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Teknologi Flex Titanium Samsung Sempurnakan Evolusi Layar Lipat

marketinginsight.id – Samsung Electronics Co., Ltd. memperkenalkan teknologi Flex Titanium untuk perangkat foldable Galaxy generasi terbaru. Berangkat dari tujuh generasi inovasi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img