marketinginsight.id – Tren konsumsi industri makanan dan minuman nasional kini tengah mengalami pergeseran fundamental seiring mendominasinya populasi Milenial dan Gen Z. Kelompok konsumen muda ini tidak lagi menempatkan kuliner sekadar sebagai pemenuh kebutuhan primer, melainkan bagian dari identitas gaya hidup, media ekspresi, dan objek eksplorasi budaya. Dinamika tersebut menuntut para pelaku industri untuk mentransformasi pendekatan pemasaran produk warisan agar tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.
Eksplorasi cita rasa Nusantara dengan sentuhan modern menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan produk FMCG di tengah gempuran tren kuliner global. Data riset menunjukkan mayoritas konsumen muda masih memiliki kebanggaan tinggi terhadap hidangan lokal, namun mereka menginginkan kemasan pengalaman yang lebih segar, interaktif, dan fleksibel. Perubahan preferensi ini membuka ruang inovasi yang sangat luas bagi para produsen untuk melakukan reposisi nilai produk di mata publik.
Sinergi antara korporasi besar, pemerintah, dan pelaku UMKM sektor ekonomi kreatif menjadi akselerator penting dalam memperkuat ekosistem industri kuliner dalam negeri. Kolaborasi lintas sektor yang dikemas melalui platform pengalaman langsung mampu memberikan dampak berganda terhadap pertumbuhan usaha kecil sekaligus memperluas jangkauan pasar. Langkah strategis ini mempertegas bahwa modernisasi bumbu dan bahan baku tradisional dapat menjadi pendorong utama roda perekonomian nasional.
Bango kembali menghadirkan Festival Jajanan Bango (FJB) 2026 di Hutan Kota GBK tanggal 24–25 Oktober 2026 dengan konsep “Culinary Culture Playground”.
Sejalan dengan purpose baru Bango, “There’s More to Taste”, festival yang selalu dinantikan seluruh pencinta kuliner ini mengajak generasi muda “mendobrak” batasan rasa, mengeksplorasi kecap dengan cara yang lebih kreatif dan tidak terduga melalui lebih dari 50 kreasi kuliner pilihan serta beragam pengalaman interaktif.
Dengan konsep baru ini, FJB 2026 menjadi destinasi di mana makanan, budaya, kreativitas, hiburan, dan gaya hidup bertemu dalam satu pengalaman yang menyenangkan dan relevan bagi generasi muda.
Turut hadir di peresmian FJB 2026, Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., M.Sc. selaku Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) yang diwakilkan oleh Deden Muhammad F.S, Plt. Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Kemendag RI menerangkan, “Kementerian Perdagangan sangat mendukung kegiatan hari ini sebagai momentum untuk meningkatkan perekonomian, terutama bagi pelaku UMKM di sektor makanan dan minuman. Kami memiliki beberapa program utama, di antaranya pengamanan pasar dalam negeri agar semakin dikuasai oleh produk-produk lokal, serta pengembangan pasar ekspor ke negara-negara potensial seperti negara yang memiliki komunitas diaspora Indonesia yang besar, sehingga menjadi peluang untuk terus mengembangkan kuliner Nusantara. Selain itu, kami juga mengembangkan program S’RASA (Rasa Rempah Indonesia) untuk mempromosikan kuliner dan restoran Indonesia di luar negeri. Kami mengapresiasi Bango dan Unilever yang ikut berpartisipasi dalam program S’RASA, dan juga atas komitmennya untuk menyelenggarakan Festival Jajanan Bango selama 21 tahun secara konsisten. Hal ini menunjukkan respons positif masyarakat terhadap kegiatan yang mendukung perkembangan kuliner Indonesia. Semoga Festival Jajanan Bango 2026 berjalan lancar dan terus memberikan manfaat bagi pengembangan ekosistem kuliner Indonesia.”
Pada kesempatan yang sama, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M. selaku Gubernur DKI Jakarta yang diwakili Dr. Juremi, ST, ME, Kepala Bidang Usaha Kecil dan Menengah Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta menyampaikan, “Jakarta memiliki banyak pelaku UMKM yang kami branding sebagai Jakpreneur; didominasi oleh tiga sektor utama, yaitu Kuliner, Fashion, dan Craft (KFC). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bisa berjalan sendiri, kolaborasi dengan Unilever serta berbagai stakeholder lainnya sangat kami perlukan untuk terus meningkatkan perekonomian UMKM. Terima kasih kepada Bango dari Unilever yang terus mengembangkan kekayaan kuliner Nusantara, termasuk melalui modernisasi cita rasa yang sesuai dengan selera generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial. FJB 2026 kali ini saya harapkan menjadi pemantik untuk mengembangkan UMKM, terutama kuliner. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan budaya kuliner Nusantara yang begitu kaya dan beragam. Mari terus berkolaborasi dan mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara untuk membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan serta memberikan multiplier effect yang positif bagi bangsa.”
Kehadiran FJB 2026 dilatarbelakangi oleh perkembangan budaya kuliner yang semakin dinamis, terutama di kalangan Milenial dan Gen Z.
Tumbuh dengan akses luas terhadap informasi, budaya, dan tren global melalui media sosial, platform digital, hingga traveling, generasi muda kini memandang makanan bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari gaya hidup, sarana bereksplorasi, mengekspresikan diri, hingga menunjukkan identitas.
Menariknya, keterbukaan terhadap budaya global tidak membuat mereka menjauh dari kuliner lokal. Survei Jakpat menunjukkan bahwa 77% Milenial dan Gen Z masih memilih makanan Indonesia.
Namun, mereka kini ingin menikmati cita rasa Indonesia dengan cara yang lebih modern, kreatif, dan relevan dengan kehidupan mereka.
Menanggapi hal tersebut, Bango melihat adanya peluang besar untuk menghadirkan perspektif baru terhadap kecap, salah satu simbol paling ikonik dari cita rasa Indonesia. Karena telah menjadi bagian dari perjalanan kuliner masyarakat selama bergenerasi, kedekatannya dengan tradisi membuat kecap seringkali dipersepsikan sebagai bahan yang identik dengan hidangan klasik dan resep-resep yang sudah familiar, bukan sebagai bagian dari budaya eksplorasi kuliner yang berkembang saat ini.
Nuning Wahyuningsih, Head of Marketing Foods Unilever Indonesia menerangkan, “Bango percaya bahwa yang perlu berubah bukanlah kecapnya, melainkan cara kita memandang kecap. Kami ingin membangun persepsi bahwa kecap bukan hanya warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai media berkreasi dengan cara yang lebih modern, menarik dan relevan. Oleh karena itu, Bango memiliki purpose terbaru yaitu ‘There’s More to Taste’ untuk mengajak generasi muda mengeksplorasi, bereksperimen, serta menemukan inspirasi baru dalam menikmati cita rasa Indonesia. Berangkat dari purpose ini, FJB 2026 berevolusi menjadi ‘Culinary Culture Playground’, ruang yang mempertemukan kekayaan kuliner Indonesia dengan kreativitas generasi baru.”
Sebelumnya Bango telah mengajak generasi muda mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dengan kecap melalui percakapan dan eksperimen di media sosial.
Dari media sosial ke pengalaman nyata, kali ini FJB 2026 memberikan kesempatan pada pengunjung merasakan langsung lebih dari 50 kreasi kuliner pilihan untuk menemukan betapa kecap dapat hadir dalam berbagai hidangan, mulai dari yang familiar hingga kreasi modern dengan kombinasi rasa yang tidak terduga.
Para penjaja kuliner menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah kecap menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang baru, membuktikan bahwa bahan yang begitu lekat dengan tradisi Indonesia juga memiliki potensi besar untuk terus berkembang mengikuti selera generasi masa kini.
M. Handry N. Haq, Marketing Manager Cimol Bojot AA yang menjadi salah satu peserta FJB 2026, menceritakan, “Melihat anak muda semakin adventurous dalam menikmati makanan, ini menjadi tantangan yang menarik bagi kami untuk terus berinovasi. Kecap yang selama ini begitu dekat dengan keseharian kita ternyata punya banyak potensi untuk dieksplorasi. Melalui kreasi Cimol Misdaseum Kecap Bango yang kami hadirkan di FJB tahun ini, kami mencoba bereksperimen dengan kecap untuk menemukan kombinasi rasa yang tepat dan menunjukkan bahwa kreativitas kuliner tidak harus meninggalkan cita rasa Indonesia, melainkan bisa menjadi cara baru untuk merayakannya.”
Selain eksplorasi hidangan, konsep “Culinary Culture Playground” juga diwujudkan lewat berbagai aktivitas seperti:
- Demo dan kompetisi masak: Selain berbagi inspirasi soal berbagai kemungkinan baru dari kecap, pengunjung juga ditantang untuk bereksplorasi dan membuktikan bahwa siapa pun bisa bikin kreasi yang seru dan lezat menggunakan Bango
- Satgas Rasa: “Pasukan” yang bergerilya mengelilingi area FJB 2026 untuk menemani eksperimen kuliner para pengunjung bersama kecap Bango
- CatchUp Party: Memadukan kecintaan generasi muda pada musik dan makanan, sederetan DJ dan Chef saling berkolaborasi dalam performance yang unik dan inspiratif
- Entertainment dari NPD dan Bernadya: Dua special guest stars yang digandrungi milenial dan Gen Z ini menutup keseruan FJB hari pertama dan kedua dengan penampilan mereka yang atraktif
Melalui evolusi di FJB 2026, Bango ingin menjadikan festival ini terus tumbuh bersama generasi muda. Bukan hanya tempat untuk menikmati makanan yang lezat, tetapi juga ruang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan rasa, kreativitas, dan ekspresi budaya yang lahir dari cita rasa Indonesia.
Nex Carlos sebagai Food Vlogger ikut berkomentar, “Festival kuliner yang keren itu bukan cuma bikin happy saat datang, tapi juga bikin kita pulang bawa sesuatu yang baru. Entah itu inspirasi makanan, kombinasi rasa yang nggak pernah kepikiran, atau cerita menarik yang akan saya share ke followers. Di FJB 2026, kita bisa jadi penikmat makanan, ikut bereksperimen, bikin konten, sampai berbagi rekomendasi seru. Saya yakin, setelah nyobain begitu banyak kreasi di sini, bakal muncul pertanyaan: ‘Ternyata kecap bisa dikreasikan kayak gini, ya? Terus, next-nya apa lagi?’ Rasa penasaran ini yang membuat eksplorasi kuliner Indonesia nggak akan pernah berhenti.”
Sebagai penutup, Nuning menyampaikan, “Melalui FJB 2026, kami berharap semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk mengeksplorasi kecap dengan cara yang lebih berani dan kreatif agar kecap bisa terus menjadi bagian dari perjalanan budaya kuliner Indonesia. Karena bagi Bango, akan selalu ada lebih banyak rasa untuk ditemukan, lebih banyak kreasi untuk dicoba, dan lebih banyak cerita kuliner Indonesia untuk diteruskan. There’s More to Taste.”
Redaksi



