marketinginsight.id – Akamai merilis laporan keamanan terbaru State of the Internet (SOTI) mengenai ancaman teknologi terkini. Laporan bertajuk The Enterprise AI Usage Risk Report 2026 mengungkapkan bahwa shadow AI yang terdesentralisasi memunculkan kelas risiko siber baru.
Laporan ini mencatat perubahan besar dalam adopsi kecerdasan buatan di lingkungan bisnis. Integrasi yang berlangsung sangat cepat kini melampaui kemampuan mekanisme pengamanan konvensional.
Terkait hal tersebut, Vice President Enterprise Security Product dan Engineering Akamai, Or Eshed, memberikan pandangannya.
Menurut Or Eshed, AI kini bukan lagi sekadar alat produktivitas, melainkan telah menjadi rekan kerja dengan akses langsung ke aset berharga perusahaan.
Selain itu, solusi pencegahan kebocoran data konvensional dirancang untuk era perpindahan file dan email lama. Saat ini, data sensitif perusahaan tersebar secara sistematis melalui jutaan prompt yang terus berubah.
Oleh karena itu, para pemimpin keamanan harus mengubah pendekatan pencegahan siber. Pengelolaan harus dilakukan secara terus-menerus pada setiap interaksi AI yang beroperasi.
Di sisi lain, laporan ini menguraikan tiga metode ancaman baru yang ditemukan para peneliti pada tahun 2026. Ancaman tersebut mampu melewati pertahanan perimeter keamanan konvensional secara efektif.
Metode pertama adalah Vibe hacking, di mana peretas memanipulasi file instruksi markdown lokal pengembang. Modifikasi halus ini menipu asisten pemrograman berbasis AI agar menjalankan tindakan tidak sah.
Selanjutnya, terdapat metode CursorJacking melalui ekstensi peramban berbahaya dengan izin akses luas. Serangan ini mengambil kunci API, basis kode, dan riwayat percakapan dari lingkungan peramban.
Sementara itu, metode CometJacking memanfaatkan teknik indirect prompt injection pada halaman web publik. Agen AI yang diretas dapat mengirimkan file lokal, email, serta kredensial sesi tanpa pengetahuan pengguna.
Untuk mengatasi ancaman tersebut, laporan Akamai menguraikan lima strategi mitigasi utama bagi para CISO. Strategi ini membantu perusahaan memperoleh manfaat ekonomi AI tanpa mengorbankan keamanan data.
Langkah pertama adalah mengarahkan telemetri dan pemantauan kepada lima persen karyawan berisiko tinggi. Kelompok ini merupakan pengguna yang menghasilkan sebagian besar interaksi melalui prompt AI.
Langkah berikutnya melibatkan penerapan federasi single sign-on (SSO) untuk menghilangkan shadow AI. Identifikasi terus-menerus harus dilakukan terhadap berbagai layanan AI berbasis software as a service.
Di samping itu, pemeriksaan lapisan interaksi perlu diperketat dari analisis statis menjadi kontekstual real-time. Analisis ini mencakup aktivitas copy-paste, prompt, serta unggahan dokumen.
Selanjutnya, ekstensi peramban dan lingkungan pengembangan terintegrasi harus diperlakukan sebagai perangkat lunak berisiko tinggi.
Hampir 75 persen ekstensi AI meminta izin akses tingkat tinggi dan 16,3 persen di antaranya mengandung celah keamanan.
Terakhir, pengamanan agen AI dilakukan dengan menerapkan prinsip hak akses minimum secara ketat. Perilaku agen AI otonom yang bertindak atas nama karyawan wajib dipantau secara berkala.
Sebagai penutup, laporan SOTI Akamai terus menghadirkan wawasan penting mengenai tren keamanan siber. Seluruh analisis didasarkan pada data serangan yang teramati di seluruh infrastruktur global Akamai.
Redaksi



