Monday, June 1, 2026

Pasar E-commerce Asia Tenggara Diproyeksi Tumbuh Pesat hingga 2029

Must Read

marketinginsight.id – Asia Tenggara diproyeksikan menjadi pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia pada tahun 2029.

Studi terbaru yang dilakukan oleh firma market intelligence IDC bersama 2C2P by Antom mengungkap bahwa pasar ini terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Dengan demikian, pasar e-commerce kawasan ini diproyeksikan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 13,2% sepanjang 2024–2029, hanya terpaut satu urutan di bawah India.

Studi independen bertajuk “How Southeast Asia Buys and Pays 2026: Unlocking SMEs’ Potential” ini menunjukkan bahwa nilai pasar tersebut akan tumbuh 85,4% hingga mencapai US$289,8 miliar pada 2029.

Seiring dengan itu, pembayaran digital terus mendorong pertumbuhan e-commerce dengan dompet digital dan pembayaran lokal yang semakin diminati di Asia Tenggara.

Pembayaran digital diperkirakan akan mencakup 97% dari total transaksi e-commerce pada 2029, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 89%.

Di sisi lain, pertumbuhan terbesar diproyeksikan berasal dari pembayaran domestik serta dompet digital, khususnya di pasar seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Pertumbuhan pembayaran digital selama periode 2024–2029 ini diproyeksikan terjadi di berbagai metode pembayaran.

Secara lebih rinci, pembayaran domestik diperkirakan tumbuh sebesar 104%, dari US$45,1 miar pada 2024 menjadi US$92,0 miliar pada 2029.

Hal ini diperkirakan menjadi kontributor terbesar dalam sektor pembayaran digital Asia Tenggara pada 2029 dengan alokasi sekitar 32%, sehingga menggantikan metode pembayaran menggunakan kartu.

Sementara itu, dompet digital diproyeksikan meningkat sebanyak 107%, dari US$38,2 miliar pada 2024 menjadi US$79,0 miliar pada 2029.

Jumlah pengguna dompet digital terhadap pasar e-commerce juga diperkirakan naik dari 24% pada tahun 2024 menjadi 27% pada tahun 2029.

Selain itu, Buy Now Pay Later (BNPL) diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 174%, dari US$6,9 miliar pada tahun 2024 menjadi US$18,9 miliar pada tahun 2029.

Solusi pembayaran digital ini menjadi semakin relevan untuk menjawab tantangan struktural karena masih adanya 56% populasi di kawasan yang belum memiliki akses kartu pembayaran menurut World Bank.

Selanjutnya, kontribusi UMKM diproyeksikan mencapai 58% pasar e-commerce Asia Tenggara pada tahun 2029, namun mereka masih menghadapi tantangan digitalisasi.

Oleh karena itu, studi edisi terbaru ini turut menghadirkan fokus baru pada UMKM sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi kawasan.

Untuk mendalaminya, studi ini melibatkan 600 responden UMKM di enam negara Asia Tenggara — Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Melalui keterlibatan ini, survei menunjukkan bahwa 66% UMKM di wilayah Asia Tenggara kini telah berjualan secara online.

Namun demikian, tingkat kematangan digital antar pelaku usaha tersebut masih belum merata. Sekitar sepertiga responden UMKM masih sangat bergantung pada transaksi tunai dalam operasional sehari-hari, termasuk di pasar yang relatif lebih maju seperti Singapura.

Hal ini dipengaruhi oleh berbagai tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha, mulai dari kompleksitas integrasi sistem, kekhawatiran terhadap fraud, biaya yang tinggi, hingga keterbatasan infrastruktur.

Bahkan, tantangan tersebut berbeda di tiap negara, seperti isu infrastruktur di Indonesia dan Filipina, hingga kekhawatiran keamanan di Singapura dan Vietnam.

Lebih lanjut, tekanan biaya dan regulasi juga menjadi kendala utama bagi UMKM di Malaysia dan Thailand.

Kondisi tersebut pada akhirnya membatasi kemampuan UMKM untuk mengoptimalkan operasional dan memperluas bisnis secara efektif.

Maka dari itu, sebanyak 63% responden menyatakan bahwa sistem pembayaran yang mereka gunakan saat ini membutuhkan peningkatan atau pembaruan.

Langkah pembaruan ini sangat diperlukan agar dapat mendukung tren pembayaran yang terus berkembang.

Di samping itu, meski baru 49% UMKM yang saat ini menjalankan bisnis lintas negara, sekitar tiga dari empat responden mengaku berencana untuk melakukan ekspansi internasional dalam dua tahun ke depan.

Ambisi ini terlihat kuat terutama di Indonesia dan Thailand, di mana UMKM semakin fokus menjangkau segmen pelanggan dan pasar yang baru.

Terkait hal tersebut, IDC memperkirakan bahwa peningkatan partisipasi UMKM dalam e-commerce lintas negara berpotensi membuka tambahan nilai penjualan hingga US$20,8 miliar pada 2029. Nilai tambahan ini setara dengan peningkatan 7,1% terhadap nilai e-commerce di seluruh kawasan.

Menanggapi fenomena ini, Worachat Luxkanalode selaku Group CEO of 2C2P by Antom menyatakan komitmennya untuk membantu bisnis dari berbagai skala melalui solusi pembayaran dan insight.

Pelaku usaha di Asia Tenggara, khususnya UMKM, memegang peranan penting karena berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB di sejumlah pasar utama dan menyerap 64,6% tenaga kerja.

Oleh karena itu, seiring ekosistem pembayaran yang berkembang dengan cepat, bisnis membutuhkan solusi yang dapat menyederhanakan operasional dan mendukung beragam preferensi pembayaran lokal.

Melalui satu integrasi API, pelaku usaha kini dapat mengatasi tantangan tersebut sekaligus membuka peluang baru dalam ekonomi digital Asia Tenggara.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Gushcloud Indonesia Perluas Jaringan MCN Gandeng Kreator YouTube Populer

marketinginsight.id – Gushcloud Indonesia memperluas jaringan Multi-Channel Network (MCN) dengan menggandeng sejumlah kreator YouTube populer di Indonesia, di antaranya Sabrina...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img