marketinginsight.id – Penelitian terbaru dari International Workplace Group (IWG) mengungkapkan hampir 69 persen orang tua merasa stres dalam mengatur penitipan anak selama libur sekolah.
Oleh karena itu, sebanyak 78 persen responden menilai akses ke ruang kerja lokal dapat mengurangi beban mental tersebut.
Kondisi ini terjadi di tengah tingginya kebutuhan akan pola kerja fleksibel demi menekan biaya pengasuhan anak.
Selain itu, sekitar 27 persen orang tua memperkirakan adanya lonjakan pengeluaran untuk biaya penitipan anak dibandingkan periode sebelumnya.
Seiring besarnya beban finansial tambahan tersebut, fleksibilitas tempat kerja menjadi kunci bagi banyak keluarga dalam menyeimbangkan urusan domestik. Kebutuhan ruang kerja alternatif yang dekat dari kediaman pun semakin mendesak.
Di sisi lain, berkurangnya kebijakan kerja fleksibel di sejumlah perusahaan menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja. Kendala ini memaksa 27 persen responden semakin bergantung pada bantuan kerabat maupun keluarga dekat.
Bahkan, kewajiban bekerja dari kantor pusat dinilai memperbesar ketimpangan pembagian tanggung jawab pengasuhan antar pasangan. Tekanan tersebut dirasakan lebih berat oleh ibu bekerja dibandingkan pria.
Selain memicu stres, rutinitas pengasuhan selama liburan sekolah turut memengaruhi produktivitas harian di tempat kerja.
Sebanyak 26 persen responden mengaku mengalami penurunan konsentrasi saat harus membagi fokus antara pekerjaan dan rumah tangga.
Guna mengimbangi beban kerja yang menumpuk, sebanyak 28 persen orang tua terpaksa memakai sebagian jatah cuti tahunan mereka. Sementara itu, satu dari lima pekerja bahkan menghabiskan seluruh cuti tahunan hanya untuk mengasuh anak.
Langkah penyesuaian lain juga dilakukan dengan menggeser jam kerja atau mengurangi durasi rapat selama periode liburan. Sebagian orang tua memilih memulai pekerjaan lebih awal atau menyelesaikan tugas hingga larut malam.
Meskipun tantangan pengasuhan cukup besar, sebanyak 83 persen responden menyatakan berminat menggunakan ruang kerja fleksibel profesional dekat rumah jika disediakan perusahaan. Fasilitas tersebut diyakini memberikan lebih banyak waktu berkualitas bersama anak.
Di samping itu, penerapan sistem kerja hibrida terbukti mampu menekan pengeluaran biaya transportasi harian. Penghematan dari sektor transportasi dapat dialokasikan langsung untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan anak.
Manfaat kerja fleksibel tidak hanya dirasakan oleh karyawan, tetapi juga berdampak positif pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Penelitian IWG bersama Arup menemukan bahwa strategi kerja terdistribusi berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 12 persen.
Selanjutnya, pengaturan kerja yang adaptif tercatat mampu menurunkan tingkat pengunduran diri karyawan secara signifikan. Efisiensi tersebut diproyeksikan memberikan penghematan anggaran hingga puluhan miliar dolar AS bagi korporasi.
Secara keseluruhan, temuan ini mempertegas pentingnya fleksibilitas lokasi kerja dalam membantu keluarga melewati periode liburan sekolah. Bekerja lebih dekat dari kediaman menjadi solusi praktis untuk menjaga kestabilan finansial dan emosional.
Terkait dinamika tersebut, Chief Commercial Officer IWG, Fatima Koning, menegaskan bahwa fleksibilitas tempat kerja mendukung kesehatan mental sekaligus kepuasan kerja.
Menurut Fatima Koning, penyediaan akses ruang kerja lokal akan mendorong pembentukan lingkungan kerja yang produktif serta meningkatkan retensi talenta perusahaan.
Redaksi



