Monday, August 10, 2026

Inovasi Alat AI Pendeteksi Gagal Jantung Ciptaan Dokter FKUI

Must Read

marketinginsight.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan kini mulai merambah dunia medis secara masif untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Berbagai inovasi kesehatan berbasis digital terus dikembangkan demi memberikan pelayanan diagnosis yang jauh lebih cepat serta akurat kepada masyarakat.

Sejalan dengan tren global tersebut, para akademisi dan praktisi kesehatan di dalam negeri terus melahirkan solusi lokal yang adaptif. Salah satu fokus utama yang kini menjadi perhatian serius adalah penanganan efektif terhadap penyakit kardiovaskular.

Gagal jantung masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Asian-HF Registry, Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia setelah Tiongkok.

Selain itu, angka kematian dalam satu tahun akibat penyakit ini mencapai 34,1%. Sementara itu, sekitar 30% pasien harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit akibat perburukan kondisi setelah dipulangkan.

Adapun salah satu penyebab tingginya angka rawat ulang adalah masih adanya penumpukan cairan di paru (residual pulmonary congestion) yang belum terdeteksi saat pasien dipulangkan.

Kondisi ini tidak selalu dapat dikenali melalui pemeriksaan dengan stetoskop biasa, sedangkan metode alternatif lainnya memerlukan peralatan khusus serta biaya yang lebih tinggi.

Berangkat dari tantangan tersebut, Dr. dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, mengembangkan Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF).

Alat berbasis kecerdasan buatan ini dirancang untuk membantu dokter mendeteksi tanda-tanda kongesti paru melalui analisis suara rongga dada secara praktis, cepat, dan objektif.

Di sisi lain, penelitian inovatif ini juga merupakan bagian dari disertasi doktoral dr. Rony di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Berbeda dengan stetoskop konvensional, NAVI-HF merekam suara dada dari lima titik pemeriksaan selama kurang lebih satu menit.

Hasil rekaman tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mengidentifikasi tanda-tanda kongesti paru yang berisiko menyebabkan perburukan kondisi pasien.

Melalui uji klinis terhadap 246 pasien gagal jantung akut, alat ini menunjukkan performa diagnostik yang baik dengan akurasi mencapai 86%.

Bahkan, sensitivitas alat ini mencapai 91% dan spesifisitas 82% dibandingkan Lung Ultrasound sebagai standar acuan. Penelitian lanjutan selama enam bulan juga menunjukkan bahwa pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang.

Oleh karena itu, dr. Rony menjelaskan bahwa tujuan utama NAVI-HF bukan untuk menggantikan peran dokter spesialis.

Sebaliknya, inovasi ini hadir sebagai alat bantu yang mempermudah identifikasi pasien dengan risiko tinggi agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.

Dalam penjelasannya, dr. Rony menekankan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum dipulangkan.

Melalui dukungan teknologi AI yang sederhana dan portabel, pasien yang membutuhkan pemantauan ketat kini dapat dikenali jauh lebih awal.

Lebih lanjut, ia berharap ke depan NAVI-HF memiliki potensi besar untuk mendukung sistem pemantauan mandiri di rumah serta layanan telemedicine.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung sekaligus menurunkan beban layanan kesehatan di Indonesia.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

nubia Neo 5 Series Resmi Meluncur Siap Manjakan Gamer Indonesia

marketinginsight.id – Pasar smartphone gaming di Indonesia kedatangan penantang baru yang menawarkan performa kelas profesional dengan harga lebih terjangkau. Langkah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img