marketinginsight.id – Fortinet®, pemimpin global di bidang keamanan siber yang mendorong konvergensi jaringan dan keamanan, merilis 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report.
Laporan ini mengungkap berbagai tantangan baru yang dihadapi organisasi akibat kekurangan talenta keamanan siber serta lanskap ancaman yang terus berkembang.
Berdasarkan temuan utama dari survei global tersebut, kurangnya tenaga ahli keamanan siber masih menjadi salah satu penyebab utama terjadinya pelanggaran keamanan yang berdampak besar. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya investasi dalam pengembangan talenta di dalam organisasi.
Meskipun para praktisi telah memanfaatkan perangkat keamanan berbasis AI secara efektif, peningkatan kompetensi dan pengembangan keterampilan baru tetap sangat diperlukan. Hal ini bertujuan agar manfaat teknologi canggih tersebut dapat dimaksimalkan secara penuh oleh tim keamanan.
Di tengah adanya kesenjangan investasi tersebut, organisasi tetap menunjukkan upaya yang terarah untuk menarik dan mempertahankan talenta keamanan siber terbaik.
Terkait fenomena ini, CISO Fortinet, Carl Windsor, menjelaskan bahwa keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan risiko strategis bagi bisnis.
Carl Windsor menambahkan bahwa meskipun dewan direksi telah menyadari pentingnya aspek ini, investasi yang lebih besar masih diperlukan untuk mengatasi munculnya risiko AI.
Oleh sebab itu, mengatasi kekurangan talenta keamanan siber menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan bisnis di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks. Terlebih lagi, data survei global mengungkapkan bahwa risikonya saat ini sudah sangat tinggi.
Tercatat sebanyak 92% organisasi di Indonesia mengalami satu atau lebih insiden pelanggaran keamanan siber dalam 12 bulan terakhir. Bahkan, 64% di antaranya mengalami lima atau lebih insiden yang berdampak langsung pada operasional perusahaan.
Dampak finansial yang ditimbulkan juga tidak main-main, di mana 62% organisasi di Indonesia menyatakan biaya pemulihan insiden tersebut melebihi 1 juta dolar AS. Di samping itu, sebanyak 64% menyebutkan bahwa proses pemulihan sistem membutuhkan waktu lebih dari satu bulan.
Melihat kerugian tersebut, para pemimpin TI menilai kurangnya keterampilan keamanan siber serta staf yang terlatih sebagai salah satu penyebab utama serangan siber.
Sebanyak 75% pemimpin sepakat bahwa kekurangan talenta ini menciptakan tambahan risiko siber yang signifikan bagi organisasi mereka.
Kondisi tersebut kian krusial karena 47% responden menyatakan jajaran eksekutif pernah menerima sanksi hukum hingga kehilangan pekerjaan setelah terjadi serangan siber.
Masalah ini diperumit oleh fakta bahwa implementasi AI di lingkungan perusahaan membawa risiko baru yang belum sepenuhnya dipahami dewan direksi.
Meskipun demikian, hampir tiga perempat responden memperkirakan kebutuhan terhadap peran pengawasan dan tata kelola AI akan semakin meningkat dalam tiga tahun ke depan.
Guna mengantisipasi hal tersebut, kesediaan perusahaan untuk membiayai sertifikasi keamanan siber bagi karyawannya kini semakin tinggi.
Tercatat hampir seluruh responden menyatakan bersedia membiayai sertifikasi tersebut, meningkat tajam dibandingkan laporan tahun sebelumnya.
Selain itu, seluruh organisasi yang disurvei telah memanfaatkan program magang maupun kemitraan untuk mengembangkan talenta baru.
Di sisi lain, penerapan solusi keamanan berbasis AI juga terpantau sangat tinggi di berbagai sektor industri. Sebanyak 90% responden menyatakan bahwa perangkat keamanan yang diperkuat AI membantu tim bekerja lebih efektif dan efisien.
Namun, perkembangan AI di sisi lain justru ikut memperlebar kesenjangan talenta keamanan siber yang ada. Sebanyak 82% responden menyatakan tantangan terbesar dalam rekrutmen saat ini adalah menemukan tenaga kerja yang memiliki pengalaman khusus di bidang AI.
Guna mengatasi tantangan tersebut, Fortinet Training Institute menyediakan salah satu program pelatihan keamanan siber terbesar dan terlengkap di industri.
Melalui program ini, Fortinet menargetkan akan melatih 1 juta orang di seluruh dunia pada tahun ini demi menutup kesenjangan talenta tersebut.
Redaksi



