marketinginsight.id – Evolusi teknologi korporat di kawasan Asia Pasifik kini bergerak melampaui sekadar migrasi sistem digital menuju orkestrasi bisnis secara menyeluruh. Pimpinan perusahaan dituntut untuk menyeimbangkan investasi kecerdasan buatan dengan penguatan infrastruktur dasar guna menjaga ketahanan operasional jangka panjang.
Kompleksitas lingkungan teknologi yang semakin terdistribusi memicu pergeseran prioritas strategis di tingkat dewan direksi. Integrasi kecerdasan buatan terbukti mendorong pembaruan portofolio aplikasi, jaringan, hingga optimalisasi platform mainframe untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Di sisi lain, tantangan keterlambatan target modernisasi dan isu kedaulatan data menuntut organisasi untuk mengadopsi pendekatan tata kelola yang lebih terintegrasi. Kehadiran teknologi otonom seperti Agentic AI kini mulai dilirik sebagai solusi strategis untuk mempercepat konversi kode dan efisiensi tugas operasional yang kompleks.
Kyndryl merilis laporan riset modernisasi global pertamanya khusus untuk kawasan Asia Pasifik. Laporan tersebut mencatat bahwa modernisasi kini menuntut orkestrasi bisnis secara menyeluruh.
Vice President dan Managing Director ASEAN Korea Kyndryl Megawaty Khie menyampaikan pandangannya mengenai situasi ini. Organisasi di Asia Pasifik dinilai membutuhkan investasi pada AI sekaligus penguatan infrastruktur dasar secara bersamaan.
Lingkungan teknologi yang semakin terdistribusi menimbulkan tantangan tersendiri bagi pengelolaan sistem. Pemimpin perusahaan perlu menentukan fokus investasi dan menjaga ketahanan lingkungan digital agar tetap aman.
Riset ini melibatkan dua ribu pemimpin bisnis dan teknologi dari lima benua serta belas industri. Porsi responden dari kawasan Asia Pasifik mencapai tiga puluh persen dari total keseluruhan.
Kehadiran AI mengubah prioritas investasi pada infrastruktur serta aplikasi perusahaan. Perubahan ini sekaligus menciptakan tantangan baru bagi model operasional organisasi modern.
Prioritas modernisasi di kawasan Asia Pasifik menunjukkan angka persentase yang saling berdekatan. Peningkatan kinerja, keamanan, serta integrasi berada di angka tiga puluh enam persen.
Peningkatan kelincahan dan inovasi bisnis juga mencatatkan angka persentase yang sama. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan adopsi kapabilitas AI canggih sebesar tiga puluh empat persen.
AI menjadi pendorong utama peningkatan penggunaan mainframe dan komputasi edge. AI juga menjadi alasan utama organisasi memperbarui jaringan serta portofolio aplikasi.
Setiap organisasi pemilik mainframe berencana menerapkan AI pada platform tersebut. Keberadaan mainframe dinilai masih memiliki peran vital dalam operasional harian.
Sebanyak empat puluh sembilan persen organisasi di Asia Pasifik terlambat mencapai target modernisasi. Penundaan proyek modernisasi berdampak pada pembengkakan biaya jangka panjang.
Sebanyak empat puluh tiga persen organisasi gagal mengadopsi kapabilitas baru dengan cepat. Selain itu, kerentanan baru dalam keamanan dan kepatuhan turut bermunculan.
Agentic AI muncul sebagai salah satu solusi untuk mempercepat proses modernisasi. Teknologi ini mampu merencanakan serta mengeksekusi tugas secara mandiri.
Tingkat adopsi teknologi ini masih berada pada tahap awal pengembangan. Sebanyak sepuluh persen organisasi di Asia Pasifik telah menggunakannya pada fase produksi.
Organisasi menerapkan teknologi ini untuk tugas yang membutuhkan banyak waktu. Pemetaan dependensi, konversi kode, serta pembuatan dokumentasi menjadi fokus utamanya.
Modernisasi telah berkembang menjadi keputusan strategis di tingkat dewan direksi. Urusan ini tidak lagi sebatas tanggung jawab teknis departemen IT semata.
Tuntutan terhadap CIO semakin meningkat seiring banyaknya prioritas yang harus berjalan sejajar. Adopsi AI, ketahanan siber, efisiensi operasional, serta pertumbuhan bisnis harus berjalan bersamaan.
Sembilan kelompok pemangku kepentingan tercatat memegang kendali atas keputusan modernisasi. Organisasi perlu mengoordinasikan pengambilan keputusan tanpa mengorbankan kecepatan eksekusi.
Isu kedaulatan data semakin menjadi faktor penting dalam strategi modernisasi. Faktor geopolitik dan tata kelola melebarkan pertimbangan di luar biaya serta kinerja.
Sebanyak tiga puluh tujuh persen organisasi menangani kedaulatan data secara selektif saat ada tuntutan. Sementara itu, dua puluh enam persen organisasi memandangnya dari sudut pandang kepatuhan.
Hanya tujuh persen organisasi yang menjadikan prinsip kedaulatan sebagai landasan utama transformasi. Namun, mayoritas organisasi memperkirakan peningkatan penggunaan wilayah sovereign cloud dalam setahun.
Transformasi digital tidak lagi berarti migrasi menuju satu lingkungan teknologi tunggal. Kompleksitas sistem justru terus meningkat seiring meluasnya adopsi digital.
Upaya transformasi membutuhkan koordinasi strategis, tata kelola, dan operasional yang terintegrasi. Pendekatan ketahanan siber juga perlu diperkuat guna menghadapi ancaman berbasis AI.
Redaksi



