Prospek Ekonomi Asia Tenggara Tumbuh 4,8 Persen Hingga 2035

Must Read

marketinginsight.id – Dinamika ekonomi global sepanjang dekade mendatang menuntut ketepatan arah kebijakan domestik dari setiap negara di kawasan. Kawasan Asia Tenggara kini berada di persimpangan jalan krusial di tengah gelombang fragmentasi dan pergeseran rantai pasok global.

Enam negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh stabil sebesar 4,8 persen per tahun hingga satu dekade ke depan. Wal demikian, jalur perkembangan masing-masing wilayah mulai menunjukkan perbedaan mencolok akibat variasi kekuatan institusi dan kesiapan teknologi.

Penyelarasan strategi jangka pendek menjadi kunci utama bagi setiap negara dalam menangkap peluang serta menghadapi potensi guncangan eksternal. Sinergi lintas batas tetap menjadi fondasi penting demi menjaga daya saing kawasan di kancah internasional.

Dinamika ekonomi global sepanjang dekade mendatang menuntut ketepatan arah kebijakan domestik dari setiap negara di kawasan. Kawasan Asia Tenggara kini berada di persimpangan jalan krusial di tengah gelombang fragmentasi dan pergeseran rantai pasok global.

Enam negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh stabil sebesar 4,8 persen per tahun hingga satu dekade ke depan. Wal demikian, jalur perkembangan masing-masing wilayah mulai menunjukkan perbedaan mencolok akibat variasi kekuatan institusi dan kesiapan teknologi.

Penyelarasan strategi jangka pendek menjadi kunci utama bagi setiap negara dalam menangkap peluang serta menghadapi potensi guncangan eksternal. Sinergi lintas batas tetap menjadi fondasi penting demi menjaga daya saing kawasan di kancah internasional.

Enam negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,8% per tahun selama 2026 hingga 2035. Pertumbuhan tersebut didukung oleh investasi asing dan pembentukan modal yang berkelanjutan, kelanjutan industrialisasi dan pembangunan infrastruktur, serta peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi.

Ketahanan konsumsi domestik dan struktur demografi yang mendukung di sejumlah negara dengan perekonomian besar di kawasan juga akan menjadi faktor pendorong tambahan.

Namun, jalur pertumbuhan masing-masing negara mulai menunjukkan perbedaan seiring dengan beragamnya tingkat kekuatan institusi, ketahanan energi, dan kesiapan teknologi yang menentukan kemampuan setiap negara dalam menghadapi berbagai guncangan serta menangkap peluang baru.

Hal tersebut disampaikan dalam laporan bertajuk “From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026–2035.” Memasuki edisi ketiga, laporan outlook 10 tahun tersebut kini menggabungkan perspektif ekonomi, bisnis, dan kebijakan publik dari Bain & Company, DBS Bank, serta Vriens & Partners.

Laporan tersebut menemukan bahwa kondisi global akan menjadi batasan bagi pertumbuhan kawasan dalam satu dekade mendatang, sementara pilihan kebijakan dalam jangka pendek akan menentukan bagaimana kinerja masing-masing perekonomian di tengah kondisi tersebut. Setiap negara perlu menetapkan prioritas domestik yang berbeda, namun, prospek pertumbuhan masing-masing negara tetap saling terkait erat melalui perdagangan, investasi, rantai pasok, energi, dan teknologi.

Sejumlah temuan utama menjadi perhatian penting dalam kajian ini. Proyeksi dasar laporan untuk tahun 2026 hingga 2035 secara keseluruhan tetap pada angka 4,8 persen.

Sebagai perbandingan, proyeksi laporan tahun 2024 memperkirakan angka 5,1 persen untuk periode 2024 hingga 2034. Lintasan pertumbuhan menunjukkan divergensi bahwa Vietnam tetap menjadi pemimpin pertumbuhan regional, sementara Thailand tertinggal dari negara-negara lain di kawasan.

Rentang kemungkinan hasil telah melebar secara signifikan. Indonesia, Filipina, dan Thailand paling rentan dalam skenario penurunan, sementara Malaysia, Singapura, dan Vietnam menangkap potensi peningkatan yang tidak proporsional di bawah kondisi yang lebih menguntungkan.

Penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI) melonjak dengan bauran mitra yang telah bergeser. Perubahan ini mencerminkan adanya penyelarasan kembali pada rantai pasok global.

Singapura tetap menjadi negara dengan perekonomian paling tangguh di kawasan ini. Ketahanan tersebut didukung oleh status yang relatif aman atau safe-haven, pasar yang mendalam, penyangga fiskal, serta kredibilitas sebagai pusat regional yang tepercaya.

Posisinya sebagai pusat modal regional juga memfasilitasi peluang investasi dan bisnis di seluruh Asia Tenggara. Pilihan kebijakan dalam jangka pendek akan sangat menentukan, dengan kondisi saat ini yang semakin menekankan pentingnya tiga prioritas utama, yakni memperkuat ketahanan institusi, memperkokoh sistem energi, serta menangkap pemanfaatan potensi AI atau AI dividend.

Pertumbuhan utama tetap solid meski arah perkembangan antar wilayah semakin beragam. Negara-negara yang termasuk wilayah ekonomi SEA-6 tumbuh rata-rata 5,1 persen pada tahun 2024 dan 2025, sejalan dengan proyeksi regional pada edisi sebelumnya.

Daya tahan ini patut dicatat dengan latar belakang meningkatnya persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, semakin kuatnya proteksionisme, serta pergeseran teknologi yang disruptif. Namun, hasil agregat ini menutupi divergensi yang tajam di antara negara anggota.

Vietnam tumbuh sebesar 7,5 persen selama periode dua tahun tersebut, sementara Thailand mencatat angka 2,7 persen. Singapura, Malaysia, dan Vietnam melampaui rata-rata regional, didukung oleh permintaan semikonduktor terkait AI, ekspor manufaktur, dan momentum investasi.

Indonesia mencatat pertumbuhan di bawah proyeksi sebelumnya akibat kendala kelembagaan dan pelaksanaan. Di sisi lain, Filipina terhambat oleh investasi dan eksekusi sektor publik yang lebih lemah.

Investasi dan perdagangan membuka peluang, sekaligus mendatangkan risiko tersendiri. Pertumbuhan dan peluang Asia Tenggara tetap terkait erat dengan permintaan eksternal.

Arus masuk bersih FDI ke SEA-6 naik 25 persen pada tahun 2025, bahkan ketika arus masuk ke Tiongkok menyusut sebesar 34 persen. Namun, investasi menjadi semakin terkonsentrasi di sejumlah kecil pusat ekonomi dan sektor.

Volume perdagangan pada tahun 2016 hingga 2025 setara dengan sekitar 89 persen dari PDB regional. Angka tersebut tercatat lebih dari dua kali lipat rata-rata global.

Laporan ini memperingatkan bahwa keuntungan ekspor baru-baru ini belum diterjemahkan ke dalam peningkatan produktivitas berbasis luas. Sebagian besar capaian tersebut didorong oleh sektor elektronik dan infrastruktur AI.

Singapura berperan sebagai pusat regional tepercaya yang menghubungkan modal dan peluang di kawasan. Negara tersebut menarik lebih dari 60 persen FDI di kawasan ini dan merupakan pusat modal regional ASEAN.

Singapura juga merupakan sumber FDI terbesar bagi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Peran dua arah ini memungkinkan Singapura untuk menghubungkan modal dan kemampuan global dengan pelaku usaha di seluruh Asia Tenggara.

Langkah itu memperkuat saling ketergantungan antara kesuksesannya dengan kawasan yang lebih luas. Kendala utamanya terletak pada ketergantungan energi dan demografi, sehingga mempertahankan pertumbuhan membutuhkan penarikan bakat secara berkelanjutan dan penyebaran luas peningkatan produktivitas yang dipimpin AI.

Tiga prioritas utamadiperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan. Pendorong utama yang diidentifikasi dalam outlook tahun 2024 tetap relevan, namun kondisi global menempatkan tiga prioritas baru.

Prioritas pertama adalah memperkuat ketahanan institusi melalui tata kelola, supremasi hukum, stabilitas fiskal, dan pasar modal yang lebih dalam. Faktor ini menjadi pembeda yang menentukan bagi kepercayaan investor, retensi modal, dan pelaksanaan kebijakan.

Prioritas kedua ialah meningkatkan sistem energi dengan aset terbarukan yang bankable sebagai prasyarat menarik investasi berkualitas tinggi. Kemampuan dan keandalan jaringan listrik diperlukan untuk mendukung perluasan basis industri dan infrastruktur AI yang padat karya.

Prioritas ketiga adalah menangkap pemanfaatan potensi AI atau AI dividend secara maksimal. Keuntungan ekonomi akan diperoleh negara-negara yang bergerak melampaui percontohan menuju adopsi skala perusahaan.

Perbedaan arah pertumbuhan meningkatkan urgensi kerja sama regional secara nyata. Pilihan kebijakan domestik pada akhirnya akan menentukan apakah masing-masing negara mendekati batas atas atau batas bawah dari potensinya.

Namun, tidak satupun perekonomian Asia Tenggara yang dapat mengisolasi diri dari dunia yang semakin terfragmentasi. Tingginya intensitas perdagangan di kawasan ini, ketergantungan pada FDI, serta paparan terhadap pergeseran energi menjadikan ketahanan kolektif semakin penting.

Sejalan dengan persiapan Singapura untuk memegang Keketuaan ASEAN pada 2027, temuan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga kawasan agar tetap terbuka. Proyeksi dasar sebesar 4,8 persen untuk Asia Tenggara dapat dicapai, tetapi tidak terjadi secara otomatis.

Kinerja selama dua hingga tiga tahun ke depan akan menentukan apakah negara-negara tersebut mengubah pendorong saat ini menjadi keuntungan tahan lama. Hal itu sekaligus menguji apakah kawasan ini mampu memperkuat posisi kolektifnya dalam perekonomian global.

Ravi Vijayaraghavan selaku Senior Partner di Bain & Company menyatakan bahwa proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara sebesar 4,8 persen hingga tahun 2035 tampak realistis untuk dicapai. Kendati demikian, rata-rata regional tersebut menyamarkan narasi yang sangat berbeda antar negara.

Setiap negara menghadapi rentang hasil yang berbeda, yang dibentuk oleh fondasi struktural dan kualitas pilihan kebijakan jangka pendek. Hasil pertumbuhan pada akhirnya dipengaruhi oleh kekuatan eksternal, tetapi sebagian besar dibentuk oleh kemampuan membangun kredibilitas kelembagaan dan meningkatkan keandalan energi.

Taimur Baig selaku Managing Director and Chief Economist di Bank DBS menyampaikan pandangan serupa mengenai keterhubungan kawasan. Perekonomian di Asia Tenggara tetap saling terhubung dalam hal perdagangan, investasi, energi, dan teknologi.

Kawasan ini memiliki populasi dan produksi yang besar, membentuk inti penting dalam rantai pasok manufaktur elektronik global, serta terus menentang kekuatan fragmentasi geoekonomi. Membangun institusi yang kredibel, meningkatkan produktivitas, dan melaksanakan kebijakan makro secara konsisten merupakan prasyarat menuju masa depan yang sehat.

Hans Vriens selaku Founder and Managing Partner di Vriens & Partners menilai bahwa pilihan kebijakan menyumbang porsi semakin besar dari perbedaan kinerja. Sebagai contoh, Vietnam menunjukkan kepemimpinan yang berdaya secara politik untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi.

Singapura memaksimalkan premi stabilitas di tengah volatilitas global yang meningkat. Malaysia menjadi pemenang dari pesatnya pertumbuhan pusat data, sementara Indonesia menghadapi tantangan dari proses pengambilan keputusan yang padat pada sejumlah program pemerintah.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Riset Salesforce: AI Jadi Prioritas Utama Penyedia Jasa di Indonesia

marketinginsight.id – Lansekap interaksi antara bisnis dan konsumen di Indonesia sedang mengalami transformasi fundamental yang didorong oleh adopsi kecerdasan buatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img