Monday, August 10, 2026

Public Relations Tetap Tak Tergantikan Dengan Kehadiran AI

Must Read

ChatGPT, Gemini, dan Claude memilih kredibilitas earned media untuk membentuk jawabannya

marketinginsight.id – Kehadiran platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude menciptakan realitas baru: visibilitas kini ditentukan oleh artikel yang diperoleh secara organik (earned), bukan sekadar exposure berbayar (paid). Kabar baik bagi industri PR, karena fungsi inti public relations (PR) sejak awal memang berfokus pada earned media. Alih-alih menggantikan pekerjaan PR, AI justru membuat peran PR semakin relevan.

Selama bertahun-tahun, paid media diyakini sebagai cara paling efektif bagi brand untuk membangun visibilitas. Alasannya mudah dipahami: brand dapat mengendalikan narasi artikel, menentukan penargetan audiens dengan presisi, memperluas jangkauan, serta melihat hasil yang relatif cepat. Hal tersebut yang membuat PR kerap ditempatkan sebagai pilihan kedua karena dinilai bergerak lebih lambat dan sulit diukur.

Namun, kehadiran artificial intelligence (AI) mulai mengubah pandangan tersebut. Ketika platform AI semakin berperan dalam menentukan informasi apa yang ditemukan, dirujuk, dan dipercaya, kredibilitas earned media justru kembali menjadi aset penting bagi brand.

Sebuah laporan terbaru dari Gartner menyebutkan bahwa lebih dari 95% tautan yang dikutip oleh platform AI berasal dari media non-berbayar. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa AI mengutamakan kredibilitas media dan konten organik dibandingkan konten berbayar. Gartner juga memprediksi adanya peningkatan signifikan pada anggaran PR dan earned media pada 2027.

Brand yang ingin menjadi bagian dari jawaban yang dihasilkan AI perlu membangun lebih dari sekadar eksposur. Konten berbayar, influencer, atau kampanye media sosial tetap memiliki peran komunikasi dalam memperluas percakapan. Tetapi perannya seharusnya melengkapi, bukan menggantikan earned first communications yang dibangun di atas hubungan terpercaya dengan media. Brand membutuhkan pemberitaan dari media kredibel serta liputan organik.

Ketika platform AI menghasilkan jawaban, platform tersebut akan mencari informasi dari sumber-sumber yang dianggap earned dan kredibel, termasuk organisasi media yang memiliki reputasi, website resmi pihak berwenang, riset akademik, laporan industri, serta database tepercaya seperti Wikipedia.

Inilah mengapa PR menjadi semakin bernilai di era AI, karena PR mampu menghadirkan liputan earned media yang kredibel dan tidak berbayar. Public Relations Society of America (PRSA) baru-baru ini menerbitkan artikel berjudul “Why Media Relations Matters Even More in the Age of AI”, yang memperkuat konsensus yang semakin berkembang di industri komunikasi: AI justru meningkatkan, bukan mengurangi, nilai strategis earned media.

Karena sistem AI cenderung mengutamakan sumber dengan standar editorial yang kuat, pelaporan yang andal, serta rekam jejak yang luas sebagai rujukan, media seperti Tempo, Kompas, dan Bisnis Indonesia memberikan lebih dari sekadar jangkauan audiens. Media-media tersebut menghadirkan legitimasi, faktor penting dalam cara AI memahami dan mendeskripsikan sebuah brand.

Nilai utama PR sejak awal adalah kredibilitas, kepercayaan, dan validasi dari pihak ketiga. AI justru membuat kualitas-kualitas tersebut menjadi semakin penting. Di era AI, brand tidak akan menjadi unggul hanya karena mereka membayar paling banyak. Mereka akan unggul karena paling dipercaya, paling banyak dikutip, dan paling banyak diperbincangkan.

Oleh Harry Tumengkol, Co-Founder Image Dynamics

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Baby Happy Perluas Gerakan Anti Ruam Lindungi 50 Ribu Bayi

marketinginsight.id – Menyambut Hari Anak Nasional 2026, Baby Happy produk popok bayi dari WINGS Care memperluas kampanye "Gerakan Anti Ruam"...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img