marketinginsight.id – Target pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di Indonesia terus dipacu guna memperkuat kedaulatan pasokan energi nasional. Pemerintah menetapkan sasaran kapasitas terpasang hingga 100 GWp dalam tiga tahun mendatang.
Perhatian publik sebagian besar masih tertuju pada tantangan percepatan proyek instalasi fisik di berbagai daerah. Namun, keandalan jangka panjang pasokan energi nasional sangat bergantung pada efisiensi tata kelola operasional pascapembangunan.
Pengelolaan aset energi surya membutuhkan strategi pemeliharaan yang konsisten agar keandalannya terjaga selama masa produktif. Skala proyek yang meluas di seluruh wilayah Tanah Air menuntut pendekatan teknologi terintegrasi.
Pemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional. Diskusi publik selama ini masih banyak berfokus pada tantangan pembangunan PLTS skala besar yang harus diselesaikan dalam kurun waktu sangat singkat.
Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas yang berhasil dibangun. PLTS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia juga perlu dioperasikan dan dipelihara secara optimal agar keandalannya tetap terjaga dalam jangka panjang.
Co-Founder sekaligus Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, menekankan pentingnya menjaga seluruh kapasitas ini agar bisa terus beroperasi setiap hari. Menurutnya, kemandirian energi bukan hanya tentang membangun pembangkit, tetapi juga memastikan PLTS tetap berfungsi optimal sepanjang masa produktifnya.
Dengan masa produktif lebih dari 20 tahun, setiap PLTS perlu terus dipantau kondisinya. Gangguan dapat direspons dengan cepat dan aset dapat dikelola dari jarak jauh meskipun tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Xurya merupakan perusahaan energi terbarukan di Indonesia yang memelopori metode sewa PLTS. Hingga saat ini, perusahaan telah berpengalaman mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Pengalaman mengelola ratusan PLTS di beragam lokasi menjadi bekal penting dalam menghadapi kebutuhan operasional pada skala yang lebih besar. Lokasi tersebut mencakup area di atas atap bangunan, lahan terbuka, perkotaan, hingga daerah terpencil.
Edwin mengatakan masih ada anggapan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan (O&M) PLTS hanya sebatas membersihkan modul surya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kinerja PLTS tetap optimal.
Tim operator perlu memantau produksi listrik harian hingga ke tingkat larik panel serta memastikan sensor berfungsi dan terkalibrasi dengan baik. Selain itu, petugas harus memeriksa kondisi lahan dan jalur air, serta melakukan pemeliharaan dan menangani gangguan yang muncul.
Tim juga harus menganalisa data untuk memahami penyebab penurunan produksi listrik harian. Penurunan tersebut bisa disebabkan oleh faktor cuaca, performa sistem, atau kesalahan pengukuran.
Guna mengelola ratusan sistem secara efisien sesuai standar global IEC (International Electrotechnical Commission), perusahaan mengadopsi berbagai teknologi Industri 4.0. Pemantauan dilakukan secara menyeluruh dan real-time mencakup aspek keselamatan, konektivitas jaringan, performa sistem, telemetri, hingga kondisi cuaca.
Salah satu sistem PLTS di daerah terpencil yang dioperasikan adalah PLTS hybrid off-grid di area pertambangan PT Central Omega Resources Tbk, Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Sistem berkapasitas 256 kWp ini dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 251 kWh dan mulai beroperasi pada September 2026.
Sistem hybrid off-grid memerlukan pemantauan dan pengelolaan yang memperhitungkan integrasi panel surya, baterai, serta sumber listrik lainnya seperti generator diesel. Integrasi tersebut krusial untuk menjaga keandalan pasokan energi di lokasi operasional.
Pemanfaatan teknologi Industri 4.0 memungkinkan tim ahli memantau kinerja dan mengoperasikan pembangkit hybrid off-grid tersebut dari jarak jauh kapan pun dan dari mana pun. Kemampuan ini mendukung keberlanjutan dan sinergi operasional PLTS secara optimal.
Otomatisasi pemrosesan data membantu memangkas waktu analisis masalah hingga lebih dari 90 persen. Hal ini membuat penanganan gangguan dapat dilakukan lebih cepat secara signifikan.
Pengalaman ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mendukung pengoperasian satu sistem PLTS secara efisien. Namun, tantangannya jauh lebih besar ketika diterapkan pada skala 100 GWp.
Ribuan PLTS akan tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan karakteristik lokasi, sistem, dan kondisi operasional yang beragam. Satu sistem PLTS terdiri dari ratusan hingga ribuan modul surya yang terintegrasi dengan berbagai perangkat elektronika daya seperti inverter, trafo, dan baterai.
Kompleksitas ini menjadikan penerapan teknologi Industri 4.0 sebagai kebutuhan krusial untuk menjaga produktivitas pembangkit. Pengelolaan PLTS pada skala tersebut juga membutuhkan kombinasi keahlian yang beragam.
Keahlian yang dibutuhkan mulai dari power engineering, data science, analisis jaringan komunikasi, pemrograman, hingga pengelolaan aset dan inventaris. Edwin menambahkan bahwa kompetensi yang dibutuhkan semakin beragam dan menuntut keterampilan analitis yang lebih kuat.
Kebutuhan tersebut tidak lagi semata-mata mengandalkan hard skill yang selama ini banyak ditemukan pada teknisi lapangan. Perkembangan sektor PLTS akan mendorong peningkatan keterampilan dan pengembangan SDM yang berkualitas di sektor kelistrikan.
Target 100 GWp PLTS berpotensi menciptakan banyak lapangan kerja profesional dengan tingkat penghasilan tinggi yang dapat bertahan selama puluhan tahun. Instalasi PLTS hanya membutuhkan waktu beberapa bulan, sedangkan pengoperasiannya dapat berlangsung lebih dari 20 tahun.
Oleh karena itu, pengembangan SDM menjadi bagian penting dari Program 100 GWp untuk memastikan PLTS dapat dikelola secara andal. Manfaat investasi energi surya diharapkan dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.
Sejalan dengan upaya tersebut, dihadirkan Solar Academy Indonesia (SAI) yang berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kapasitas SDM di industri energi surya. Program ini membagikan pengetahuan serta praktik industri untuk memperluas pemahaman tentang energi surya.
Inisiatif tersebut juga mendorong lebih banyak tenaga kerja lokal mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Edwin meyakini program 100 GWp ini dapat menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal Indonesia jika dikelola dengan baik.
Transisi energi tidak hanya mendukung kemandirian energi nasional. Langkah ini juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan.
Redaksi



