Monday, August 10, 2026

Pendopo dan Julia Orlandy Tampilkan Ulos Modern di IFW 2026

Must Read

marketinginsight.id – Pendopo sebagai salah satu merek usaha Kawan Lama Group kembali berpartisipasi dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026.

Kali ini Pendopo menggandeng desainer berbakat Indonesia, Julia Orlandy untuk menghadirkan koleksi bertajuk “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”.

Terdiri dari 9 koleksi, “Nadi di Tondi” mengangkat Ulos sebagai inspirasi utama. Rancangan ini diterjemahkan ke dalam busana yang elegan, kontemporer, serta relevan dengan gaya hidup tanpa melepaskan akar budaya.

Sebagai rumah bagi lebih dari 300 UMKM, Pendopo terus berkomitmen memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara melalui berbagai kolaborasi kreatif. Bagi Pendopo, wastra Indonesia bukan sekadar kain tradisional, melainkan medium yang menyimpan cerita, nilai, dan identitas bangsa.

Melalui kolaborasi dengan Julia Orlandy, Pendopo ingin menghadirkan ruang baru bagi warisan budaya. Langkah ini bertujuan agar tradisi terus hidup, berkembang, dan menjangkau generasi yang lebih luas.

Mengusung tema “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”, koleksi ini berangkat dari filosofi Batak mengenai tondi, yaitu jiwa, roh, dan kekuatan batin.

Dipadukan dengan makna nadi sebagai simbol denyut kehidupan, koleksi ini merefleksikan bagaimana tradisi terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Inspirasi ini juga datang dari tradisi Mangulosi, yaitu prosesi adat Batak berupa penyematan Ulos sebagai simbol restu, kasih sayang, perlindungan, dan penghormatan.

Pendopo dan Julia Orlandy menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam siluet formal bergaya elegan dengan detail asimetris dan aksen turtleneck.

Selaras dengan karakter fashion Pendopo yang mengedepankan konsep ready-to-wear, setiap rancangan dihadirkan agar wastra Indonesia dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan modern.

Koleksi ini menggunakan ragam Ulos seperti Sibolang Rasta, Sibolang Rasta Marliris, Mangiring, Tutur-tutur, dan Simarpisoran.

Pilihan kain tersebut tidak hanya menampilkan kekayaan wastra Batak, tetapi juga mengangkat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah dalam 9 koleksi “Nadi di Tondi” yang membawa penonton menyusuri perjalanan filosofi kehidupan masyarakat Batak.

Perjalanan ini dimulai dari Tondi sebagai simbol jiwa dan kekuatan batin, Hamajuon yang merepresentasikan kemajuan, serta Holong sebagai kasih sayang.

Selanjutnya ada Hasangapon yang melambangkan kehormatan, Pardomuan tentang persatuan, hingga Horas sebagai doa akan kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

Narasi kemudian berlanjut melalui Ragidup yang menggambarkan dinamika kehidupan, serta Pasu-pasu sebagai simbol berkat dan doa. Rangkaian peragaan busana ini ditutup dengan Hagabeon yang merepresentasikan keberlanjutan generasi.

Melalui seluruh rangkaian tersebut, “Nadi di Tondi” menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan untuk dikenang. Tradisi merupakan nilai yang terus hidup dan relevan bagi kehidupan masa kini.

Koleksi ini tampil dalam palet Ulos dengan beragam warna yang disandingkan dengan kain hitam polos. Perpaduan tersebut menciptakan kesan elegan meski hadir dengan berbagai unsur warna.

Keberagaman warna merefleksikan kekayaan budaya Sumatra yang dipadukan dengan material semi-wool serta konstruksi tailoring. Pendekatan ini memperlihatkan karakter Ulos dalam perspektif yang lebih modern.

Seluruh Ulos ditenun oleh para perajin lokal sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan ekosistem wastra Indonesia. Proses produksi ini menjaga keautentikan kain tradisional tersebut.

“Melalui ‘Nadi di Tondi’, saya ingin menunjukkan bahwa Ulos memiliki ruang yang sangat luas untuk terus berevolusi tanpa kehilangan maknanya,” ujar Julia Orlandy.

Julia menjelaskan bahwa setiap rancangan lahir dari rasa hormat terhadap tradisi. Desain diterjemahkan dalam bahasa yang lebih kontemporer agar dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan.

“Bagi saya, fashion bukan hanya tentang busana, tetapi juga medium untuk membawa cerita budaya agar terus hidup dan menjangkau generasi baru,” tambah Julia.

Sementara itu, Head of Pendopo, Ni Luh Putu Laura Sarassita menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan.

Pendopo terus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Di Pendopo, kami percaya bahwa setiap wastra Nusantara membawa cerita, nilai, dan identitas untuk terus diwariskan,” ungkap Laura.

Laura menambahkan bahwa pihak Pendopo tidak hanya menghadirkan produk berbasis budaya. Mereka juga membangun kolaborasi yang membuka ruang bagi para desainer untuk menginterpretasikan kembali warisan Indonesia.

“Bersama Julia Orlandy, kami berharap ‘Nadi di Tondi’ dapat menginspirasi semakin banyak orang untuk mengenal, mengapresiasi, sekaligus bangga mengenakan wastra Indonesia sebagai bagian dari keseharian,” pungkas Laura.

Melalui peragaan di Indonesia Fashion Week 2026, Pendopo kembali menegaskan komitmennya dalam mengangkat wastra Nusantara. Langkah ini menjadi wujud nyata dalam menghadirkan tradisi di tengah gaya hidup modern.

Sejalan dengan semangat “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”, Pendopo meyakini nilai penting warisan budaya.

Warisan tersebut tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga terus dihidupkan, dikenakan, dan diwariskan lintas generasi.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Hanya 14 Persen Orang Indonesia Merasa Aman Secara Finansial

marketinginsight.id – Studi terbaru Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 mengungkapkan bahwa hanya 14% masyarakat Indonesia yang merasa sangat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img