marketinginsight.id – Isu kenaikan biaya kuliah menghadirkan tantangan besar untuk banyak keluarga dalam memastikan pendidikan tetap dapat menjadi prioritas.
Sebab, kini persoalannya sudah bukan lagi sekadar membayar uang kuliah di awal semester, melainkan juga memastikan kemampuan finansial hingga pendidikan selesai terjaga.
Berdasarkan publikasi Statistik Penunjang Pendidikan 2024, BPS mencatat bahwa rata-rata biaya pendidikan terus meningkat pada setiap jenjang, bahkan mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran pada jenjang perguruan tinggi.
Bahkan, rata-rata total biaya yang dikeluarkan peserta didik pada jenjang perguruan tinggi pada kelompok pengeluaran 20% teratas mencapai Rp24,42 juta per tahun ajaran.
Di samping itu, biaya pendidikan memang bukan melulu mencakup uang kuliah. Selama empat hingga lima tahun masa studi, mahasiswa juga harus menghadapi biaya hidup, tempat tinggal, transportasi, hingga berbagai kebutuhan penunjang perkuliahan yang terus meningkat.
Oleh karena itu, baik keluarga maupun mahasiswa yang membiayai kuliahnya sendiri menghadapi pertanyaan serupa mengenai cara menyiapkan dana di awal dan menjaga kemampuan finansial sepanjang masa studi. Perencanaan dana pendidikan menjadi semakin penting sebagai jawaban atas tantangan tersebut.
Hanya saja, perencanaan keuangan masih kerap dimaknai sebatas menabung atau mengumpulkan dana ketika maknanya lebih luas.
Perencanaan yang baik juga mencakup kesiapan menghadapi berbagai risiko yang dapat mengganggu tujuan finansial, seperti kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, maupun biaya kesehatan tidak terduga.
Terkait fenomena tersebut, Direktur Bisnis Individu Merangkap Plt. Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, mengatakan tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga ketahanan finansial.
Ketika berbicara mengenai dana pendidikan, banyak pihak yang masih berfokus pada berapa besar dana yang harus dikumpulkan.
Padahal, tantangan yang sebenarnya adalah memastikan tujuan tersebut tetap dapat dicapai meskipun kondisi keuangan berubah.
Banyak keluarga baru menyadari besarnya komitmen biaya pendidikan ketika anak sudah diterima di perguruan tinggi ketika idealnya perencanaan dilakukan jauh sebelum momen tersebut.
Menurut Fabiola Noralita, setiap tujuan finansial jangka panjang seperti pendidikan membutuhkan dua fondasi yang sama pentingnya, yaitu membangun aset dan mengelola risiko.
Literasi keuangan perlu berkembang dan bukan lagi berputar mengenai cara mengelola pendapatan, menabung, atau berinvestasi.
Lebih lanjut, literasi keuangan juga termasuk memahami pentingnya membangun ketahanan finansial. Dengan begitu, ketika menghadapi kondisi yang tidak diharapkan, masyarakat tidak harus mengorbankan tujuan-tujuan finansial yang telah dipersiapkan sejak lama.
Dalam konteks tersebut, perlindungan finansial melalui asuransi dapat menjadi salah satu instrumen yang melengkapi perencanaan keuangan.
Perannya bukan menggantikan tabungan atau investasi, melainkan membantu menjaga stabilitas keuangan ketika terjadi risiko yang berdampak pada kesehatan maupun kemampuan memperoleh penghasilan.
Melalui langkah mitigasi ini, tujuan jangka panjang, termasuk pendidikan, diharapkan tetap dapat diupayakan secara maksimal.
Sebagai perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan, IFG Life terus mendorong peningkatan literasi keuangan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya membangun ketahanan finansial di setiap tahap kehidupan.
Fabiola Noralita menegaskan bahwa melalui perlindungan yang terjangkau dan menyeluruh, IFG Life berkomitmen menjadi mitra masyarakat dalam menjaga stabilitas keuangan.
Kemitraan ini sekaligus membantu mewujudkan berbagai tujuan hidup, termasuk pendidikan, demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Sementara itu, momentum penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan kesiapan lebih dari sekadar biaya masuk kuliah.
Baik bagi orang tua maupun individu yang membiayai pendidikannya sendiri, membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini menjadi bekal penting agar perjalanan akademik tidak mudah terganggu oleh perubahan kondisi ekonomi.
Pada akhirnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau keberhasilan lolos seleksi masuk perguruan tinggi.
Kesiapan finansial untuk menjalani pendidikan hingga tuntas menjadi bagian penting, sehingga perencanaan yang komprehensif dari menabung, investasi, dana darurat, hingga perlindungan risiko sangat dibutuhkan agar cita-cita tetap berada di jalurnya.
Redaksi



