marketinginsight.id – Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan daya pikat yang kuat bagi wisatawan mancanegara. Berdasarkan temuan terbaru dari Visa Global Travel Intentions (GTI) 2026, faktor keterjangkauan biaya menjadi alasan utama turis asing memilih berkunjung ke Tanah Air, melampaui daya tarik keindahan alam maupun ragam kuliner nusantara.
Perubahan tren juga terlihat dari preferensi perjalanan dan perilaku bertransaksi di lapangan. Mayoritas wisatawan kini didominasi oleh rombongan keluarga yang semakin adaptif memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk perencanaan liburan, sekaligus mengandalkan pembayaran digital non-tunai selama beraktivitas.
Peta kebutuhan yang makin terfragmentasi ini membuka peluang besar bagi para pelaku usaha lokal, sektor ritel, hingga industri perhotelan untuk menghadirkan pengalaman liburan yang lebih personal, bernilai tinggi, dan terhubung secara seamless.
Visa merilis hasil studi terbarunya bertajuk Visa Global Travel Intentions (GTI) 2026 yang menyoroti alasan wisatawan mancanegara memilih Indonesia. Keragaman motivasi tersebut mencakup kedekatan budaya, perjalanan keluarga, pengalaman premium, hingga ketersediaan wisata ramah muslim.
Studi mengungkapkan bahwa faktor keterjangkauan menjadi alasan utama wisatawan mancanegara berkunjung, melampaui daya tarik kuliner dan alam. Sebanyak 77 persen wisatawan tercatat bepergian bersama keluarga.
Hampir 60 persen dari total anggaran perjalanan dialokasikan untuk tiket penerbangan, akomodasi, serta makanan. Temuan ini mendorong pelaku industri pariwisata untuk lebih memahami kebutuhan spesifik wisatawan sepanjang perjalanan.
Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menjelaskan bahwa Indonesia menawarkan daya tarik yang melampaui sekadar destinasi liburan. Seiring berkembangnya preferensi konsumen, terdapat peluang besar untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih terhubung dan bernilai.
Kondisi tersebut dapat mendorong wisatawan mengeksplorasi lebih banyak destinasi, memperpanjang masa tinggal, serta berinteraksi dengan pelaku usaha lokal. Visa berkomitmen mendukung pertumbuhan pariwisata melalui penyediaan sistem pembayaran yang aman dan nyaman.
Studi ini juga memetakan perbedaan karakteristik wisatawan dari berbagai negara asal. Wisatawan Malaysia menyukai kedekatan lokasi dan kesamaan budaya dengan fokus perjalanan pada kuliner serta belanja.
Wisatawan Singapura lebih mengutaman perjalanan berorientasi pengalaman seperti wellness, olahraga, dan gaya hidup. Sementara itu, wisatawan Australia cenderung tinggal lebih lama dan aktif mengeksplorasi destinasi di luar Bali.
Wisatawan Arab Saudi menjadi segmen bernilai tinggi dengan durasi tinggal panjang serta permintaan tinggi pada akomodasi premium dan wisata halal. Perbedaan motivasi ini menegaskan pentingnya pendekatan layanan pariwisata yang disesuaikan dengan tiap pasar.
Perencanaan perjalanan kini semakin mandiri dan memanfaatkan teknologi digital. Sebanyak 47 persen wisatawan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mencari ide perjalanan.
Sementara 38 persen menggunakannya untuk menyusun rencana perjalanan, 37 persen untuk ulasan, dan 36 persen untuk memesan akomodasi. Perilaku pembayaran turut mengalami pergeseran signifikan di lapangan.
Dompet digital menjadi metode pembayaran utama, sementara penggunaan uang tunai turun dari 52 persen pada 2023 menjadi 15 persen pada 2026. Kendati demikian, 46 persen wisatawan tetap membawa uang tunai sebagai cadangan.
Di sisi lain, wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri juga membutuhkan kepastian transaksi. Sebanyak 48 persen merasa khawatir dompet digital lokal tidak dapat digunakan di luar negeri.
Sebanyak 59 persen masih membawa uang tunai dan 60 persen merencanakan penggunaan kartu pembayaran khusus perjalanan. Vira Widiyasari menegaskan bahwa keyakinan bertransaksi merupakan aspek penting dalam menjaga kenyamanan wisatawan.
Tren outbound wisatawan Indonesia juga didorong oleh perjalanan berbasis pengalaman. Sebanyak 35 persen wisatawan terdorong oleh acara olahraga, festival musik, dan kegiatan budaya.
Bahkan 45 persen wisatawan Indonesia rela bepergian khusus untuk menyaksikan pertunjukan idola mereka. Fenomena berbasis acara ini membuka peluang bisnis yang lebih luas bagi sektor akomodasi, transportasi, hingga ritel.
Redaksi



