marketinginsight.id – Penelitian terbaru International Workplace Group (IWG) mengungkapkan bahwa profesional Generasi Z tengah mendefinisikan ulang perjalanan karier mereka.
Mereka mengadopsi jalur karier fleksibel, didukung AI, serta memiliki beberapa sumber pendapatan untuk membangun potensi penghasilan jangka panjang.
Sementara itu, AI bukan sekadar gelombang inovasi melainkan bagian dari pergeseran paling mendalam dalam cara hidup dan bekerja selama beberapa dekade terakhir.
Laju perubahannya yang cepat membentuk ulang fungsi pekerjaan, sehingga profesional muda beralih ke “karier portofolio” yang lebih gesit menggabungkan berbagai peran maupun usaha kewirausahaan.
Di samping itu, penelitian IWG menunjukkan munculnya model karier baru di mana kesuksesan makin bergantung pada kemampuan beradaptasi dan kerja sama dengan teknologi.
Studi pada profesional Generasi Z di Inggris mencatat 33% responden memiliki atau mempertimbangkan pekerjaan sampingan guna mencapai ketahanan finansial di tengah lonjakan biaya hidup.
Selanjutnya, alih-alih bergantung pada satu pekerjaan, Generasi Z membangun karier portofolio sebagai strategi menjaga daya saing di tengah perubahan ekonomi.
Pergeseran ini didorong oleh pengaruh AI, di mana 55% responden meyakini teknologi tersebut akan mengubah arah karier mereka secara proaktif.
Selain itu, seiring AI mengambil alih tugas teknis, keterampilan manusia seperti kreativitas, kolaborasi, dan kepemimpinan menjadi semakin bernilai.
Bahkan 90% pemimpin SDM menyatakan bahwa kegagalan memprioritaskan keterampilan manusia dapat menghambat inovasi perusahaan.
Di sisi lain, potensi penghasilan tetap menjadi pendorong utama dalam pengambilan keputusan karier Generasi Z.
Di antara mereka yang berganti pekerjaan dalam tiga tahun terakhir, 30% menyebutkan motivasi utamanya adalah memperoleh gaji lebih tinggi melalui perpindahan peran secara strategis.
Mengenai mobilitas harian, perjalanan pulang pergi yang jauh ke tempat kerja semakin dianggap tidak lagi relevan bagi pekerja muda.
Sebanyak 65% responden Generasi Z menyatakan kurang tertarik berwirausaha atau memiliki beberapa karier jika diwajibkan melakukan perjalanan jauh setiap hari.
Oleh karena itu, model kerja hibrida dan fleksibel memberikan kontrol lebih besar atas waktu kerja para profesional muda.
Sebanyak 24% pekerja menyatakan kerja hibrida mengurangi waktu perjalanan, sehingga membebaskan waktu untuk proyek pribadi maupun pekerjaan sampingan.
Pergeseran ini juga diperkuat oleh persepsi Generasi Alpha yang menginginkan efisiensi waktu perjalanan di masa depan.
Perubahan preferensi bekerja lebih dekat dari rumah mendorong pertumbuhan pesat jaringan ruang kerja profesional IWG di berbagai wilayah pinggiran kota.
Pada akhirnya, Country Manager IWG Indonesia Yoga Priyautama menyatakan bahwa Generasi Z beradaptasi di tengah transformasi industri dengan membangun karier portofolio.
Model kerja fleksibel membantu generasi ambisius ini meningkatkan keterampilan sekaligus membuka berbagai peluang baru tanpa terhambat perjalanan jauh.
Redaksi



