marketinginsight.id – Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jantung terus menjadi perhatian utama di tengah tingginya dinamika gaya hidup masyarakat modern. Langkah pencegahan yang konsisten serta pemantauan kondisi fisik secara berkala merupakan fondasi utama dalam menekan risiko penyakit kardiovaskular.
Teknologi medis yang kian berkembang kini mempermudah masyarakat untuk mendeteksi berbagai indikasi gangguan kesehatan secara mandiri dari rumah. Kemudahan akses informasi dan alat pemantauan harian membantu setiap individu mengambil tindakan proaktif sebelum gejala klinis yang lebih berat muncul.
Pendekatan preventif ini menjadi fokus penting dalam memperkuat kualitas hidup serta menjaga produktivitas jangka panjang secara berkelanjutan. Sinergi antara kebiasaan hidup sehat dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam melindungi diri serta keluarga dari ancaman penyakit fatal.
Menjelang World Heart Day 2026 pada 29 September, perhatian terhadap kesehatan jantung kembali menjadi penting. Tahun ini, World Heart Federation mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat”, yang mengajak masyarakat untuk lebih mengenali tanda dan risiko penyakit kardiovaskular yang dapat terlewatkan.
Bagi Omron Healthcare Indonesia, momentum ini menjadi kesempatan untuk mendorong masyarakat agar tidak menunggu hingga masalah kesehatan muncul. Upaya tersebut dapat dimulai dengan memahami faktor risiko, membangun kebiasaan hidup sehat, serta melakukan pemantauan secara rutin.
Sejalan dengan momentum ini, Omron Healthcare Indonesia memperkenalkan kampanye “Keep On, Life On”. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk terus menjalani kehidupan dengan membangun kebiasaan sehat dan memiliki tujuan yang bermakna.
Menjaga kesehatan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang tetap hadir untuk keluarga dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Direktur Omron Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, percaya bahwa menjaga kesehatan merupakan perjalanan yang dilakukan setiap hari. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor risiko dan memiliki akses solusi pemantauan rutin.
Langkah proaktif dalam menjaga kesehatan memungkinkan masyarakat untuk terus menjalani kehidupan dan melakukan hal-hal yang berarti.
Data nasional menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap faktor risiko tersebut. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8% berdasarkan pengukuran tekanan darah.
Sementara itu, prevalensi berdasarkan diagnosis dokter tercatat sebesar 8,6%. Kesenjangan lebih dari 20% tersebut menunjukkan masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui status hipertensinya.
Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke. Maka dari itu, mengetahui tekanan darah secara berkala menjadi langkah penting untuk memahami kondisi kesehatan.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, Dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko penting dalam berbagai kondisi kardiovaskular. Salah satunya adalah atrial fibrillation (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung tidak teratur.
Hipertensi jangka panjang memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko terjadinya AFib. Pada kondisi AFib, aliran darah di dalam jantung menjadi tidak optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah.
Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, risiko terjadinya stroke akan meningkat tajam. Oleh sebab itu, pengendalian tekanan darah dan pemahaman irama jantung menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko komplikasi.
Hubungan antara hipertensi, AFib, dan risiko stroke juga terlihat dalam studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Studi terhadap 5.070 peserta menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat.
Di sisi lain, kondisi AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat. Temuan ini menegaskan pentingnya mengenali dan memantau faktor risiko kardiovaskular secara berkelanjutan.
Kaitan tersebut dirasakan langsung oleh Iwet Ramadhan, Business Owner, Co-Founder DVET Siaran Pagi IP, Head Of Communications Yayasan Jantung Indonesia sekaligus Brand Ambassador Omron. Pengalaman sebagai penyintas stroke telah mengubah cara pandangnya terhadap kesehatan secara menyeluruh.
Iwet menyadari bahwa merasa sehat dan tetap aktif bukan berarti sudah mengetahui kondisi kesehatan secara utuh. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk lebih konsisten menjaga kesehatan dan membagikan edukasi kepada masyarakat.
Keterlibatannya bersama Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan jantung. Pihaknya berharap masyarakat tidak perlu menunggu mengalami stroke untuk mulai peduli terhadap kesehatan.
Selain memahami risiko, pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Aktor, presenter, sekaligus Brand Ambassador Omron, Dion Wiyoko, melihat gaya hidup sehat sebagai sesuatu yang perlu dibangun secara realistis.
Dion mengungkapkan bahwa hidup sehat tidak harus selalu berat atau ekstrem. Hal yang paling penting adalah menemukan aktivitas yang dinikmati dan menjadikannya bagian dari keseharian.
Menjaga kesehatan juga bertujuan agar seseorang dapat terus hadir dan memberikan manfaat bagi keluarga serta orang di sekitar. Keinginan untuk tetap aktif mendampingi keluarga menjadi motivasi utama dalam menjaga kondisi tubuh.
Tetap aktif, menjaga pola makan, dan beristirahat cukup merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang. Namun, gaya hidup sehat saja belum tentu menjamin seseorang mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Tekanan darah dan irama jantung dapat berubah tanpa selalu menimbulkan keluhan fisik. Oleh karena itu, kebiasaan hidup sehat perlu dilengkapi dengan pemantauan secara rutin.
Sebagai bagian dari kampanye “Keep On, Life On”, teknologi ECG (elektrokardiogram) diperkenalkan untuk membantu masyarakat memantau irama jantung. Alat ini dapat mengenali kemungkinan gangguan irama, termasuk atrial fibrillation.
Solusi ECG portabel ini memungkinkan pemantauan dilakukan secara mandiri di rumah saat gejala muncul. Hal ini membantu mengenali AFib paroksismal yang dapat muncul dan menghilang secara berkala.
Hasil rekaman ECG dari perangkat portabel ini memberikan informasi berharga bagi tenaga kesehatan. Dokter dapat memperoleh gambaran kondisi jantung pasien di luar pemeriksaan fasilitas kesehatan.
Dua perangkat yang diperkenalkan adalah Omron Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B dan Omron Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T. Kedua alat ini dirancang untuk mendukung pemantauan aktivitas listrik jantung secara praktis dalam keseharian.
Hasil ECG yang menunjukkan indikasi AFib bukan merupakan diagnosis final dan tetap perlu dievaluasi oleh dokter. Pemantauan di rumah berfungsi sebagai informasi tambahan untuk menentukan kapan konsultasi medis diperlukan.
Untuk mendukung pemantauan tekanan darah di rumah, masyarakat disarankan menggunakan alat pengukur yang akurat dan tervalidasi secara klinis. Pengukuran rutin sesuai petunjuk penggunaan akan mempermudah deteksi perubahan pada tubuh.
Melalui kebiasaan hidup sehat dan pemantauan rutin, masyarakat dapat lebih proaktif menjaga kesehatan jantung. Langkah sederhana ini memungkinkan setiap individu untuk terus melakukan hal-hal yang berarti dalam hidup mereka.
Redaksi



