Alasan Medis Berat Badan Susah Turun Saat Diet

Must Read

marketinginsight.id – Upaya menurunkan berat badan kerap kali menjadi proses panjang yang melelahkan dan penuh dengan rasa penasaran. Banyak orang merasa telah melakukan segala cara dengan disiplin tinggi, namun jarum timbangan justru tetap bergeming di tempat.

Kondisi tersebut sering kali memicu rasa frustrasi mendalam hingga membuat seseorang keliru menghakimi diri sendiri. Padahal, hambatan dalam menurunkan berat badan melibatkan mekanisme biologis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan porsi makan.

Memahami akar permasalahan secara medis menjadi kunci utama agar penanganan yang dilakukan tepat sasaran. Simak penjelasan mendalam mengenai fakta di balik kesulitan menurunkan berat badan melalui ulasan berikut ini.

Pernahkah kamu merasa sudah mengatur porsi makan, mengurangi camilan manis, hingga rajin berolahraga, tapi timbangan tetap diam di tempat? Situasi seperti ini sering kali bikin frustrasi. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa dirinya kurang disiplin atau menganggap dirinya gagal berdiet.

Padahal, urusan berat badan yang sulit turun itu tidak melulu sesederhana perkara makan terlalu banyak atau kurang bergerak. Faktanya, secara medis, obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang melibatkan genetik, neurobiologi, perilaku makan, serta berbagai faktor biologis dan lingkungan, bukan sekadar masalah kemauan.

Daripada terus menebak-nebak, simak wawancara khusus bersama dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, selaku Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) mengenai fakta medis tersebut.

Bukan Sekadar Makan Banyak, Obesitas Itu Penyakit Kronis yang Kompleks

Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya apa itu obesitas dan kenapa kondisi tersebut dikategorikan sebagai penyakit? Dokter Erwin menjelaskan bahwa pandangan lawas mengenai kegemukan sudah harus ditinggalkan.

Dulu masyarakat mengenal obesitas semata-mata karena porsi makan yang berlebihan. Sekarang dunia medis mengetahui bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks daripada sekadar asupan kalori.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, semakin jelas terbukti bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang bersifat multifaktorial. Artinya, ada banyak faktor yang saling berinteraksi, mulai dari genetik, hormonal, gangguan fungsi otak dalam mengatur rasa lapar dan kenyang, faktor psikologis seperti stres dan kurang tidur, hingga efek samping penggunaan obat-obatan tertentu.

Karena penyebabnya sangat beragam, perjalanan setiap orang yang hidup dengan obesitas ini pasti berbeda-beda.

Misteri Susah Kurus Meski Sudah Diet

Lalu, kenapa berat badan susah turun padahal sudah melakukan pembatasan makan? Menanggapi keresahan ini, Dokter Erwin meluruskan bahwa diet sebetulnya berarti mengatur pola makan, bukan berarti tidak makan sama sekali.

Apabila seseorang sudah mengurangi makan tetapi berat badannya tidak turun, tenaga medis perlu mencari akar permasalahannya. Masalahnya bisa tersembunyi pada kebiasaan ngemil yang tidak disadari, atau tubuh orang tersebut memang tidak mampu mengolah zat gizi dengan baik sehingga kalori yang masuk justru lebih banyak disimpan sebagai tumpukan lemak.

Jadi, stop menghakimi atau menyimpulkan seseorang kurang disiplin hanya karena berat badannya sulit turun. Dokter Erwin juga mengingatkan bahaya mengikuti tren diet di media sosial tanpa dasar yang jelas.

Sesuatu yang berhasil memangkas berat badan si A, belum tentu akan berhasil di tubuh si B karena metabolisme mereka berbeda.

Kapan Kita Harus Waspada?

Di Indonesia sendiri, isu berat badan bukanlah masalah sepele. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hampir 1 dari 4 orang dewasa mengalami obesitas.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis. Risiko tersebut mencakup diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker.

Sebagai langkah deteksi mandiri yang paling sederhana, kamu bisa mulai memantau Indeks Massa Tubuh (BMI). Pengecekan BMI dapat dilakukan melalui tautan resmi penyedia layanan kesehatan.

Namun perlu diingat, BMI ini hanyalah indikator awal untuk skrining, bukan penentu mutlak kondisi kesehatanmu. Lantas, kapan seseorang harus berkonsultasi ke dokter akibat obesitas?

Apabila dalam dua sampai tiga bulan berat badan atau lingkar perut terus meningkat, hal itu sudah menjadi tanda bahaya awal. Jangan tunggu sampai muncul penyakit berat.

Jika kamu mulai merasa mudah lelah, lutut sering nyeri saat naik tangga, bangun tidur badan tidak segar, dan aktivitas harian mulai terganggu, itulah saat yang tepat untuk mencari bantuan profesional.

Penanganan Tidak Bisa Dipukul Rata

Karena kondisi setiap orang unik, penanganan obesitas tidak mengenal prinsip penyetaraan rata. Menurut penjelasan Dokter Erwin, penanganan obesitas akan dilakukan lewat evaluasi menyeluruh secara personal.

Dokter Spesialis Gizi Klinik tidak hanya bertugas menyusun menu makan. Mereka juga mengevaluasi penyebab pasti dari penumpukan lemak, menilai kondisi metabolik, komposisi tubuh, hingga mengecek ada atau tidaknya penyakit penyerta.

Dari sanalah, dokter akan menyusun terapi gizi medis yang paling sesuai dengan tubuh pasien. Pondasi utamanya memang tetap pada perubahan gaya hidup, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres.

Namun pada kondisi tertentu, misalnya metabolisme sudah terlanjur terganggu, seseorang mungkin akan membutuhkan obat-obatan medis. Salah satunya melalui prosedur injeksi sebagai terapi pendamping untuk membantu mengembalikan fungsi metabolisme tubuh ke jalur yang benar.

Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kamu sudah berusaha keras namun hasilnya belum sesuai harapan, jangan patah semangat. Melakukan konsultasi obesitas dengan dokter adalah langkah paling krusial untuk menemukan penanganan yang akurat.

Namun, jika kamu masih ragu atau butuh referensi terpercaya sebelum melangkah ke fasilitas kesehatan, kamu bisa membekali diri dengan informasi yang valid terlebih dahulu. Pihak penyelenggara kesehatan telah menghadirkan microsite edukasi sebagai bagian dari kampanye #BeraniBicaraBerat.

Di platform tersebut, kamu bisa menemukan artikel informatif, fitur edukasi, hingga panduan mengenali kondisi berat badan sebagai bekal penting untuk mengambil alih kembali kendali atas kesehatan. Yuk, kunjungi situsnya sekarang dan mulailah berani bicara berat demi kualitas hidup yang lebih baik!

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

nubia Neo 5 Series Hadirkan Fitur Flagship dengan Harga Terjangkau

marketinginsight.id – nubia terus memperkuat posisinya di segmen smartphone gaming dengan menghadirkan performa produk yang kuat sekaligus berbagai inisiatif baru...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img