Mayoritas Pengguna VMware Mulai Cari Solusi Alternatif Virtualisasi

Must Read

marketinginsight.id – Perubahan kebijakan lisensi perangkat lunak virtualisasi global kini mulai mendorong penyesuaian strategi infrastruktur teknologi di berbagai perusahaan. Lonjakan biaya operasional serta keterbatasan skema dukungan membuat banyak entitas bisnis mengevaluasi ulang ketergantungan pada satu vendor utama.

Situasi tersebut memicu peningkatan minat terhadap adopsi platform hibrida serta layanan efisiensi independen guna menjaga kelangsungan sistem. Pengambil kebijakan teknologi kini cenderung memprioritaskan fleksibilitas peta jalan digital yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil organisasi.

Riset terbaru mengonfirmasi bahwa mayoritas organisasi kini secara aktif mempertimbangkan jalur alternatif demi efisiensi anggaran dan keamanan. Langkah ini diambil untuk memastikan kendali operasional tetap berada di tangan perusahaan tanpa mengorbankan stabilitas performa.

Rimini Street mengumumkan hasil survei global terbaru berjudul “2026 IT Virtualization Survey – What’s Next for VMware Users”. Survei ini dilakukan pada hampir 300 organisasi pengguna VMware oleh Unisphere Research atas nama Rimini Street.

Organisasi menginginkan lebih banyak pilihan, fleksibilitas, dan kendali atas strategi virtualisasi TI mereka, ujar Keith Costello, EVP and chief operating officer Rimini Street. Rangkaian layanan perusahaan membantu klien mengurangi biaya, memperkuat keamanan, meningkatkan kualitas dukungan, dan memperpanjang nilai investasi yang sudah ada tanpa terikat jadwal vendor.

Temuan survei menegaskan kebutuhan bisnis akan strategi praktis dan independen dari vendor agar prioritas bisnis kembali berada dalam kendali klien. Biaya tetap menjadi faktor utama dalam mencari solusi alternatif.

Sebanyak 90 persen responden mempertimbangkan pilihan alternatif karena biaya lisensi yang lebih tinggi. Sementara itu, 54 persen responden menyebut berakhirnya dukungan lisensi perpetual sebagai alasan mengevaluasi opsi alternatif.

Survei menunjukkan biaya tetap menjadi faktor utama bisnis dalam menentukan arah strategi virtualisasi TI dengan 73 persen responden menyebut penghematan biaya sebagai prioritas utama. Pada saat yang sama, organisasi melaporkan tantangan kompleksitas operasional sebesar 40 persen dan kendala mengelola berbagai vendor sebesar 38 persen.

Organisasi juga menghadapi hambatan mengamankan permukaan serangan yang luas sebesar 37 persen serta kebutuhan keterampilan tim sebesar 37 persen. Temuan survei menunjukkan bahwa meskipun organisasi secara aktif melakukan perubahan, mereka juga perlu mengurangi risiko dan menghindari gangguan operasional.

Pimpinan TI kini memilih strategi multi-hypervisor dan hibrida untuk kendali dan fleksibilitas yang lebih besar. Sebanyak 60 persen responden mempertimbangkan strategi multi-hypervisor yang mencerminkan meningkatnya minat terhadap lingkungan TI campuran.

Selanjutnya, 47 persen responden memilih strategi virtualisasi hibrida yang terdiri dari hypervisor dan container demi manfaat terbaik dalam penempatan beban kerja. Hampir setengah responden atau 48 persen menyatakan saat ini tidak berencana memindahkan aset mereka ke VMware Cloud Foundation.

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan mengambil pendekatan lebih terukur yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan model operasional mereka. Tren tersebut menandakan semakin beragamnya strategi virtualisasi dengan peralihan jangka panjang menuju lingkungan yang lebih disesuaikan.

Seiring organisasi mengevaluasi kembali langkah modernisasi, mereka semakin mengadopsi pendekatan kombinasi infrastruktur on-premises, private cloud, public cloud, dan hypervisor alternatif. Langkah ini diambil guna mendukung fleksibilitas beban kerja, efisiensi operasional, dan pengendalian biaya yang lebih baik.

Mayoritas pelanggan VMware juga mempertimbangkan dukungan pihak ketiga guna melindungi dan memperpanjang masa manfaat investasi yang ada. Sebanyak 66 persen responden saat ini menggunakan atau sedang mempertimbangkan dukungan pihak ketiga.

Alasan utama yang disebutkan meliputi faktor keamanan sebesar 60 persen serta dukungan instalasi dan implementasi sebesar 57 persen. Sementara itu, kekhawatiran terkait layanan dan dukungan teknis tercatat sebesar 54 persen.

Para pemimpin keamanan TI mengaku kewalahan menghadapi siklus kerentanan TI yang terus berulang. Dalam lingkungan tervirtualisasi, satu mesin virtual yang disusupi dapat mengekspos ratusan mesin virtual lainnya sehingga meningkatkan risiko kebocoran data.

Kondisi tersebut menjadikan hypervisor sebagai target bernilai tinggi bagi serangan ransomware dan advanced persistent threats. Banyak organisasi mulai mempertimbangkan dukungan pihak ketiga untuk memperkuat cakupan layanan dan menjaga kelangsungan operasional.

Temuan ini menunjukkan bahwa organisasi menginginkan kendali lebih besar atas cara mengamankan dan mengembangkan lingkungan TI mereka. Sebanyak 77 persen pemimpin keamanan menilai solusi dengan visibilitas ancaman real-time dan perlindungan proaktif akan memberikan manfaat lebih ketimbang mengandalkan program patching standar.

Secara keseluruhan, survei menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan strategi virtualisasi yang lebih tangguh dengan pendekatan keamanan terintegrasi. Perubahan arah pengguna saat ini bukan sekadar mengganti vendor, melainkan upaya mengurangi ketergantungan pada satu penyedia tunggal, tegas Joe McKendrick, lead analyst Unisphere Research.

Bagi banyak bisnis, hal ini berarti menyeimbangkan dukungan untuk lingkungan yang ada dengan investasi baru demi meningkatkan ketahanan dan skalabilitas. Laporan lengkap survei ini dapat diunduh melalui tautan resmi yang tersedia.

Survei dilakukan oleh Unisphere Research bekerja sama dengan Rimini Street melibat 269 eksekutif dan profesional dari berbagai organisasi pengguna VMware antara Desember 2025 dan Februari 2026. Seluruh responden merupakan pengguna aktif solusi VMware pada saat riset berlangsung.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Visi New Horizons Agoda: Bandung Raih Peringkat Tiga Besar Asia

marketinginsight.id – Bandung berhasil masuk daftar tiga besar destinasi wisata populer di Asia, berdasarkan peringkat New Horizons terbaru dari platform...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img