marketinginsight.id – Penyelenggaraan ajang tahunan yang berfokus pada ekosistem inklusi kembali digelar secara megah di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. Langkah ini mempertegas urgensi pemenuhan hak-hak individu berkebutuhan khusus agar masuk dalam prioritas kebijakan publik nasional.
Sektor pameran dan jaringan inklusif kini tidak lagi sebatas ruang pertemuan atau selebrasi rutin komunitas tahunan semata. Penguatan kolaborasi antara pihak swasta, organisasi kemasyarakatan, serta pemerintah daerah menjadi kunci utama terciptanya dampak sosial yang berkelanjutan.
Dukungan sektor publik terhadap ekosistem neurodiversitas turut mendorong terciptanya ruang pemberdayaan ekonomi dan pendidikan yang ramah bagi semua kalangan. Integrasi layanan bagi kelompok masyarakat rentan ini diharapkan mampu menciptakan model kota inklusif di masa depan.
Penyelenggaraan SPEKIX (Neurodiversity Expo) 2026 resmi dibuka di JICC Senayan. Sejak hadir sebagai Special Kids Expo pada 2019, ajang ini bertumbuh dari inisiatif komunitas menjadi platform inklusif nasional.
Ekosistem kolaboratif ini mencatat jumlah pengunjung sebanyak 5.585 orang pada 2025 lalu. Memasuki fase baru, gerakan ini aktif mendorong perubahan kebijakan bagi individu berkebutuhan khusus (IBK) di Indonesia.
Ketua Yayasan SPEKIX Asa Indonesia, Zarrabida Ibnusirad, menyatakan bahwa ajang ini berawal dari pameran kecil untuk merangkul keluarga. Pihaknya menegaskan kegiatan ini bukan sekadar acara dua hari, melainkan gerakan sosial yang terus mendorong wujudnya kebijakan berpihak di seluruh Indonesia.
Secara rutin, penyelenggara terlibat dalam diskusi bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, audiensi juga dilakukan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
Populasi 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia saat ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. Gerakan ini mengambil peran sebagai pendorong agar wacana layanan disabilitas integratif terealisasi sebagai regulasi berjalan dari masa hamil hingga dunia kerja.
Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa inklusi tidak boleh berhenti sebagai program atau momentum sesaat. Kolaborasi antarpihak menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem inklusi yang berkelanjutan di tanah air.
Kolaborasi ini sekaligus membuka peluang menjadikan DKI Jakarta sebagai kota percontohan layanan inklusif. Pengetahuan serta jejaring yang terbangun diharapkan dapat dibawa ke lingkungan keluarga, sekolah, hingga dunia kerja.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan konkret dengan membuka booth resmi di lokasi acara. Pemprov DKI turut mengundang guru PAUD dan SD se-DKI Jakarta untuk mengikuti lokakarya tenaga pendidik.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan dukungan penuh terhadap ajang ini demi mewujudkan Jakarta yang ramah dan inklusif. Kemitraan ini diharapkan terus berlanjut demi menciptakan pelayanan kota yang lebih baik bagi seluruh warga.
Sepanjang dua hari, ajang ini menghadirkan 35 seminar dan lokakarya, termasuk sesi khusus pendampingan IBK di kelas bagi tenaga pendidik. Lebih dari 129 tenant pameran, ruang konsultasi psikolog gratis, hingga Program Karier Inklusi turut disajikan tanpa biaya.
Pengunjung dapat memanfaatkan layanan konsultasi gratis, mengunjungi booth karir, serta mengikuti sesi pembukaan lokakarya. Informasi jadwal lengkap sesi harian dapat diakses langsung pada titik informasi dan Media Center.
Rangkaian kegiatan ini masih berlanjut hingga Minggu, 11 Oktober, dengan penambahan sesi panggung pertunjukan. Ajang ini terus berjalan bersama IBK dan keluarga demi mewujudkan Indonesia yang ramah neurodiversitas.
Redaksi



