marketinginsight.id – Tuntutan pengelolaan sumber daya manusia terus mengalami pergeseran yang sangat dinamis seiring perubahan arus bisnis. Perusahaan dituntut tidak hanya fokus pada target finansial, tetapi juga pada penguatan kapabilitas internal.
Pendekatan strategis dalam tata kelola tenaga kerja menjadi kunci utama keberlanjutan organisasi. Keseimbangan antara orientasi performa dan nilai-nilai kemanusiaan makin menentukan arah pertumbuhan bisnis.
Jobstreet by SEEK menghadirkan ruang diskusi mendalam untuk membedah tantangan serta peluang pengelolaan SDM tersebut. Diskusi ini merangkum berbagai wawasan penting bagi para pemimpin bisnis dan praktisi HR.
Jobstreet by SEEK menyoroti sejumlah pelajaran penting bagi profesional HR, pemimpin bisnis, dan praktisi pengelolaan SDM dalam membangun SDM masa depan. Pembahasan mencakup pentingnya HR menjadi mitra strategis bisnis, pengembangan kemampuan melalui coaching, hingga perpaduan data dan kemanusiaan dalam pengambilan keputusan.
Hal tersebut disampaikan dalam perbincangan bersama Dina Sitopu, praktisi HR dengan pengalaman lebih dari dua dekade di perusahaan multinasional, pada episode pertama Power Talks Season 2 oleh Jobstreet by SEEK.
Dirangkum dari diskusi tersebut, ada lima pelajaran kepemimpinan dan pengelolaan SDM yang relevan bagi perusahaan maupun profesional yang ingin membangun kapabilitas jangka panjang di dunia kerja.
1. HR perlu menjadi mitra tepercaya yang memahami bahasa bisnis
Dina menekankan bahwa HR tidak cukup hanya memahami masalah karyawan. Untuk menjadi mitra strategis, HR perlu memahami arah bisnis, target perusahaan, serta bahasa yang digunakan oleh setiap fungsi, mulai dari pemasaran, produktivitas, keselamatan, kualitas, hingga rantai pasok.
Selanjutnya, HR perlu hadir dalam diskusi yang penting bagi bisnis, bukan hanya datang ketika perusahaan membutuhkan eksekusi kebijakan. Dengan keterlibatan sejak awal, HR dapat memahami masalah secara lebih utuh, membantu menyelaraskan kebutuhan lintas fungsi, dan memastikan strategi perusahaan dapat dijalankan melalui SDM.
2. Coaching yang efektif harus dibangun sebagai ekosistem, bukan sekadar program
Menurut Dina, coaching akan memberikan dampak apabila setiap orang dapat merasakan manfaatnya bagi diri sendiri, pekerjaan, tim, dan pencapaian kinerja. Oleh karena itu, coaching tidak seharusnya berhenti sebagai program satu kali atau sekadar memenuhi daftar pengecekan perusahaan.
Coaching perlu ditanamkan ke dalam proses bisnis dan peran setiap manajer, didukung oleh pelatihan, pengakuan, komunitas, serta praktik yang sederhana dan relevan. Di sisi lain, perusahaan dapat membangun kemampuan coaching dari dalam melalui sertifikasi, kelompok kecil, dan jaringan mentor yang dilakukan secara konsisten.
“Coaching bukanlah memberi tahu orang lain, melainkan memicu sudut pandang yang berbeda,” ungkap Dina. Bagi manajer HR tersebut, coaching yang baik membantu seseorang memahami konteks, menemukan pilihan, dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3. Keputusan HR perlu menggabungkan data, pendengaran aktif, dan kemanusiaan
Dina menjelaskan bahwa keputusan yang berkaitan dengan SDM perlu dimulai dari data dan fakta. Namun demikian, angka saja tidak cukup.
HR juga perlu mendengarkan sudut pandang para pemangku kepentingan, memahami kekhawatiran dan ekspektasi mereka, lalu memastikan adanya keselarasan sebelum mengambil keputusan.
Pada tahap akhir, faktor kemanusiaan tetap harus menjadi pertimbangan utama. Keputusan yang secara angka terlihat benar dapat menghasilkan dampak yang buruk apabila dijalankan tanpa kebijaksanaan, kepekaan, dan rasa hormat.
Sebab, perpaduan antara pola pikir analitis dan sisi humanis membantu HR mengelola dampak serta risiko keputusan secara lebih bertanggung jawab.
4. Perusahaan perlu membangun “psychological safety” agar SDM berani bersuara
Perusahaan yang menjadi tempat yang baik untuk berkembang bukanlah perusahaan yang bebas dari tekanan atau konflik. Menurut Dina, pembeda utamanya adalah kemauan perusahaan untuk berinvestasi dalam nilai, hubungan, dan lingkungan kerja yang membuat karyawan dapat menyampaikan kekhawatiran serta menjadi diri sendiri.
“Psychological safety” perlu dibangun melalui hubungan yang dekat sekaligus profesional. Pemimpin perlu menjadi sosok yang mudah ditemui, tetapi tetap mampu memberikan umpan balik, menjaga standar, dan mengambil keputusan secara konsisten.
Dengan demikian, kedekatan tidak berubah menjadi perlakuan khusus, sementara profesionalisme tidak membuat pemimpin menjadi jauh dari tim.
5. Pemimpin HR perlu memimpin dengan keberanian dan membangun kepercayaan
Dina menilai bahwa pemimpin yang baik bukanlah sosok yang sekadar ingin disukai atau ditakuti. Pemimpin perlu menjadi sosok tepercaya dan dihormati, mampu menepati janji, menjaga kredibilitas, serta menerapkan standar yang konsisten kepada seluruh anggota tim.
Keberanian juga dibutuhkan agar pemimpin dapat menghadapi tantangan, mengubah cara pandang, dan mencari peluang di tengah keterbatasan. Bagi profesional yang sedang membangun karier, keberanian ini perlu didukung oleh kemampuan menetapkan prioritas, membangun sistem pendukung, dan memiliki definisi sukses yang berasal dari pertumbuhan diri.
“Pemimpin HR yang hebat selalu memimpin dengan keberanian, membantu orang menjadi versi terbaik dari dirinya, dan membentuk bisnis dengan memastikan kemanusiaan serta kinerja dapat tumbuh bersama,” ungkap Dina.
Sawitri, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, mengatakan bahwa percakapan ini memberikan perspektif yang relevan bagi profesional HR, pemimpin bisnis, dan pencari kerja. Perspektif tersebut membantu memahami bagaimana SDM dapat dipersiapkan untuk menghadapi perubahan.
“Wawasan dari Dina menunjukkan bahwa HR yang kuat bukan hanya memahami kebijakan dan proses, tetapi juga mampu berbicara dalam bahasa bisnis, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi manusia. Perpaduan antara kinerja dan kemanusiaan inilah yang penting untuk membangun perusahaan dan SDM yang siap menghadapi masa depan,” ujar Sawitri.
Podcast Power Talks
Podcast Power Talks merupakan bagian dari komitmen Jobstreet by SEEK untuk menghadirkan ruang diskusi yang relevan bagi ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia. Power Talks menghadirkan narasumber para profesional dan ahli di bidang rekrutmen dan SDM dari perusahaan nasional maupun internasional.
Memasuki Season 2 yang hadir dalam beberapa episode, Power Talks membawa penyegaran visual dan format yang disesuaikan berdasarkan masukan penonton agar pembahasan lebih mudah diikuti. Episode bersama Dina Sitopu menjadi pembuka dalam musim kedua ini.
“Melalui Power Talks, kami ingin membawa percakapan yang lebih jujur, praktis, dan dekat dengan realitas dunia kerja. Harapannya, para profesional HR, pemimpin bisnis, dan pencari kerja bisa mendapatkan perspektif baru yang dapat langsung diterapkan,” ujar Sawitri.
Power Talks sangat relevan bagi profesional HR yang ingin mengembangkan karier, serta pemimpin bisnis yang membangun tim berkinerja tinggi. Program ini juga bermanfaat bagi pencari kerja yang sedang menavigasi dinamika baru dunia kerja di Indonesia.
Tayangan Podcast Power Talks dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Jobstreet by SEEK, maupun di platform Spotify dengan mencari “Power Talks by Jobstreet”. Episode baru ditayangkan rutin setiap bulan.
Redaksi



