Tuesday, February 10, 2026

Mengenal Bahaya Hidden Hunger pada Anak yang Tampak Sehat dan Aktif

Must Read

marketinginsight.id – Tampilan fisik anak yang terlihat lincah dan berisi ternyata tidak selalu menjamin kebutuhan nutrisi di dalam tubuhnya terpenuhi secara sempurna.

Fenomena yang dikenal sebagai hidden hunger atau kelaparan tersembunyi ini menjadi ancaman serius karena sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda fisik yang ekstrem.

Kondisi ini muncul saat tubuh anak kekurangan vitamin dan mineral esensial meskipun asupan kalori harian mereka terlihat sudah mencukupi.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, masalah kekurangan gizi mikro ini dapat menghambat potensi kecerdasan dan pertumbuhan optimal anak di masa depan.

Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia masih berjuang melawan tantangan gizi ganda, termasuk stunting dan obesitas yang berdampak langsung pada kualitas kesehatan generasi mendatang.

Penting bagi orang tua untuk mulai menggeser fokus dari sekadar membuat anak kenyang menjadi pemenuhan nutrisi yang berkualitas.

Penyebab utama masalah ini adalah pola makan yang tidak seimbang, di mana anak-anak sering kali terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat namun sangat minim protein hewani.

dr. Monique Carolina Widjaja, M. Gizi, Sp.GK, menyoroti bahwa ketergantungan pada makanan ultra-proses (UPF) seperti sosis, nugget, dan camilan manis menjadi pemicu defisiensi gizi.

Konsumsi makanan praktis secara berlebihan tidak hanya merusak sinyal kenyang alami tubuh, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia dini.

Gejala hidden hunger sering tersamarkan dalam bentuk kondisi ringan seperti anak yang mudah lelah, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau sering mengalami sariawan.

Orang tua juga perlu waspada jika mendapati rambut anak tampak kusam dan mudah rontok, kuku yang rapuh, atau saat anak sering mengalami infeksi berulang.

Tanda-tanda tersebut merupakan sinyal biologis bahwa tubuh sedang kekurangan zat besi, zinc, hingga vitamin D yang sangat krusial bagi sistem imun.

Untuk mencegah dampak jangka panjang, skrining gizi secara berkala sangat dianjurkan meskipun anak tampak sehat dan aktif beraktivitas.

Pemeriksaan rutin ini berfungsi sebagai langkah deteksi dini terhadap stunting terselubung serta upaya pencegahan obesitas di masa mendatang.

Proses skrining gizi yang ideal dilakukan melalui pengukuran antropometri yang mencakup berat badan, tinggi badan, hingga lingkar kepala dan lengan anak.

Selain itu, tenaga medis akan melakukan pemeriksaan fisik pada kulit dan mata, melakukan evaluasi pola makan harian, serta melakukan tes laboratorium jika diperlukan.

Langkah pencegahan melalui edukasi nutrisi dan pemantauan rutin harus dianggap sama pentingnya dengan pemberian imunisasi dasar pada anak.

Investasi terbaik bagi orang tua adalah memastikan piring makan anak berisi nutrisi lengkap demi menjaga daya saing dan kesehatan mereka di masa depan.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Essity Perkenalkan Leukoplast Red First Aid Plester Medical Grade untuk Luka Ringan

marketinginsight.id – Essity Indonesia, perusahaan global di bidang kesehatan dan kebersihan dengan misi Breaking Barriers to Well-being, memperkenalkan kampanye edukatif “Beda...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img