Tuesday, February 10, 2026

JLL Ungkap Potensi Investasi Infrastruktur Digital Indonesia Hingga 2028

Must Read

marketinginsight.id – Sektor data center global diperkirakan akan terus mengalami ekspansi signifikan. Berdasarkan laporan Global Data Center Outlook 2026 terbaru dari JLL, kapasitas global data center diperkirakan hampir dua kali lipat, dari 103 GW menjadi 200 GW pada 2030.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama perubahan lanskap industri ini, dengan beban kerja AI diperkirakan akan mencakup sekitar 50% dari total kapasitas global pada 2030.

Meski tumbuh cepat, fundamental sektor ini tetap dinilai sehat dan indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko gelembung pasar.

Pertumbuhan masif tersebut diperkirakan akan membutuhkan total investasi hingga USD 3 triliun dalam lima tahun ke depan.

Nilai tersebut mencakup USD 1,2 triliun peningkatan nilai aset properti serta sekitar USD 870 miliar pembiayaan utang baru, yang menandai dimulainya fase supercycle investasi infrastruktur.

“Kami tengah menyaksikan transformasi paling signifikan pada infrastruktur data center sejak migrasi cloud pertama kali terjadi,” ujar Matt Landek, Global Division President, Data Centers and Critical Environments di JLL.

Ia menambahkan, “Skala permintaan yang muncul sangat luar biasa. Hyperscaler mengalokasikan hingga USD 1 triliun untuk belanja data center hanya dalam periode 2024 hingga 2026.”

“Di saat yang sama, keterbatasan pasokan dan lamanya proses koneksi jaringan listrik hingga empat tahun menciptakan kondisi yang menantang dan secara mendasar membentuk ulang pendekatan kami terhadap pengembangan, sumber energi, dan strategi pasar,” lanjut Matt

Perkembangan global ini tercermin dalam prospek pasar Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan industri data center Indonesia akan tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2028, didukung pesatnya pertumbuhan jumlah pengguna internet.

Sejalan dengan itu, Bank Dunia memproyeksikan permintaan data center di Indonesia tumbuh hingga 16,8% per tahun, yang menegaskan kuatnya fundamental jangka panjang sektor ini.

“Pasar investasi properti di Indonesia saat ini tengah mengalami tren diversifikasi. Investor semakin aktif menjajaki sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas serta potensi pertumbuhan jangka panjang, dengan data center muncul sebagai salah satu segmen paling menarik, bersama dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.

AI mendorong transformasi

Beban kerja AI diperkirakan akan mencakup sekitar 50% dari total kapasitas data center global pada 2030, dibandingkan sekitar 25% pada 2025. JLL memperkirakan akan terjadi titik krusial pada 2027, ketika kebutuhan AI inference melampaui training sebagai kebutuhan utama.

“Kami melihat munculnya paradigma infrastruktur baru, di mana fasilitas pelatihan AI membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dan mampu menghasilkan tarif sewa sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan data center konvensional,” ujar Andrew Batson, Global Head of Data Center Research di JLL.

“Di luar aspek ekonomi, AI kini telah menjadi isu strategis nasional, yang mendorong berbagai negara untuk mengembangkan kapabilitas domestik melalui investasi infrastruktur yang didukung pemerintah dengan peluang belanja modal (CapEx) hingga USD 8 miliar pada 2030,” jelas Andrew

Kontribusi pendapatan dari chip AI diproyeksikan meningkat dari sekitar 20% menjadi 50% dari total pasar semikonduktor pada 2030.

Pada saat yang sama, custom silicon diperkirakan akan menguasai sekitar 15% pangsa pasar, seiring hyperscaler mengembangkan prosesor mereka sendiri.

Ke depan, teknologi baru seperti neuromorphic computing juga berpotensi berkembang untuk kebutuhan inference yang sangat efisien, sehingga dapat menurunkan kebutuhan infrastruktur dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi pada data center.

Di Indonesia, percepatan adopsi AI turut mendorong meningkatnya permintaan akan infrastruktur digital yang skalabel dan berkapasitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Pola pertumbuhan regional

Kawasan Amerika diperkirakan tetap menjadi wilayah data center terbesar di dunia dengan pangsa sekitar 50% dari total kapasitas global, serta mencatat laju pertumbuhan tercepat hingga 2030.

Kawasan Asia Pasifik diprediksi akan berkembang dari 32 GW menjadi 57 GW, sementara Eropa, Timur Tengah, dan Afrika akan tumbuh sekitar 13 GW kapasitas baru.

Setiap kawasan menghadapi dinamika pasar yang berbeda dan akan membentuk strategi pengembangannya masing-masing.

Di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA), pertumbuhan data center ditopang oleh permintaan yang kuat dari hyperscaler, dengan aktivitas terkonsentrasi di pusat-pusat data center Eropa yang telah mapan seperti London, Frankfurt, dan Paris, serta di pasar Timur Tengah yang tengah menjalankan agenda transformasi digital.

Di kawasan Amerika, Amerika Serikat tetap menjadi penggerak utama aktivitas data center dengan kontribusi sekitar 90% dari total kapasitas regional.

Untuk Asia Pasifik, pertumbuhan sektor ini terutama dipimpin oleh data center kolokasi, sementara kapasitas on-premise diperkirakan turun sekitar 6% seiring berlanjutnya migrasi perusahaan ke layanan cloud.

Sementara di Asia Tenggara, Indonesia semakin menonjol sebagai salah satu pasar pertumbuhan utama. Kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta selalu relevan karena kedekatannya dengan pusat konektivitas internet utama (internet exchange point).

Di luar Jabodetabek, wilayah seperti Cikarang dan Karawang menarik minat hyperscaler berkat keberadaan kawasan industri yang telah berkembang serta akses ke sumber listrik mandiri.

Sementara Batam semakin dilirik sebagai calon hub data center regional karena keunggulan konektivitasnya.

Fundamental pasar tetap kuat

Indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko gelembung, karena analisis JLL mencatat sektor ini masih memiliki fundamental yang sehat, dengan tingkat okupansi global mencapai 97% dan sekitar 77% dari proyek yang sedang dibangun telah memiliki komitmen penyewa.

Tarif sewa global diperkirakan mencatat pertumbuhan rata-rata 5% per tahun hingga 2030, dengan kawasan Amerika memimpin pertumbuhan sekitar 7% per tahun akibat keterbatasan pasokan yang signifikan.

Meskipun pengembang telah melakukan pemesanan material hingga 24 bulan lebih awal, lebih dari separuh proyek pada 2025 tetap mengalami keterlambatan konstruksi selama tiga bulan atau lebih.

Rata-rata waktu tunggu peralatan secara global kini mencapai 33 minggu, meningkat sekitar 50% dibandingkan sebelum 2020.

Untuk merespons kondisi ini, industri kini mulai mengadopsi solusi konstruksi modular, dengan penjualan tahunan sistem modular dan micro data center secara global diperkirakan mencapai USD 48 miliar pada 2030.

“Peningkatan waktu tunggu peralatan juga dirasakan di Asia Pasifik sebagaimana di kawasan lain, namun tingginya tingkat pre-commitment menunjukkan kepercayaan pasar yang tetap kuat,” ujar Glen Duncan, Data Center Research Director JLL Asia Pacific.

Di Indonesia, transformasi digital yang berkelanjutan, peningkatan penetrasi internet, serta fundamental permintaan yang positif terus memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor data center.

Tantangan energi dan keberlanjutan

Ketersediaan energi masih menjadi tantangan utama, dengan rata-rata waktu tunggu koneksi jaringan listrik di pasar utama yang kini melebihi empat tahun.

Akibat keterlambatan interkoneksi utilitas serta meningkatnya  biaya listrik, sejumlah operator mulai mendanai pembangkit energi mereka sendiri. Beberapa pasar seperti Dublin dan Texas bahkan telah menerapkan pendekatan bring your own power.

Untuk mengatasi keterbatasan jaringan, data center mengadopsi strategi energi yang beragam sesuai kondisi regional.

Di Amerika Serikat, gas alam berperan penting sebagai sumber daya sementara (bridge power) maupun pembangkit listrik permanen di lokasi.

Empat hyperscaler utama bahkan telah sepenuhnya mencocokkan portofolio data center mereka di AS dengan energi terbarukan.

Di kawasan EMEA, kombinasi energi terbarukan dan transmisi private wire mampu menurunkan biaya listrik penyewa hingga 40% dibandingkan jaringan umum.

Sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage Systems/BESS) juga semakin berkembang, memungkinkan penanganan gangguan listrik jangka pendek secara lebih efisien sekaligus mempercepat proses koneksi jaringan.

Selain itu, kombinasi tenaga surya dan penyimpanan energi diproyeksikan menjadi komponen utama strategi energi data center global pada 2030, dengan biaya energi terbarukan yang diperkirakan semakin kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil di berbagai kawasan utama.

“Seiring meningkatnya ekspektasi regulator dan pemangku kepentingan terhadap penggunaan energi terbarukan secara global, operator data center akan menghadapi pengawasan yang semakin ketat terkait strategi pengadaan energi mereka,” ujar Martin Jensen, EMEA Division President, Data Centers di JLL.

“Meski energi surya dan angin tetap menjadi fokus utama, sumber energi seperti nuklir mulai mendapat perhatian karena kemampuannya menyediakan pasokan listrik yang andal serta membantu menyeimbangkan tuntutan keberlanjutan dengan kelangsungan operasional. Namun, pengembangan kapasitas nuklir baru secara luas diperkirakan belum akan terjadi sebelum dekade 2030-an,” jelasnya

Di Indonesia, dinamika global terkait energi dan infrastruktur ini semakin menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengembangan data center, khususnya dalam hal ketersediaan listrik, konektivitas, dan kesiapan talenta di tengah persaingan regional yang semakin ketat.

“Ke depan, penguatan kesiapan infrastruktur (khususnya dalam ketersediaan listrik dan akses air bersih), konektivitas, serta pengembangan talenta akan menjadi faktor kunci untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan,” tambah Farazia Basarah.

Perkembangan pasar modal

Sektor data center juga sedang mengalami penguatan aktivitas di pasar modal, dengan strategi investasi inti mencakup sekitar 24% dari aktivitas penggalangan dana, meningkat dari kisaran di bawah 10% sebelumnya. Sejak 2020, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) global telah melampaui USD 300 miliar.

Ke depan, arah investasi diperkirakan akan bergeser menuju rekapitalisasi dan kerja sama usaha (joint venture) seiring semakin pergeseran struktur investasi.

Pembentukan modal dana inti (core fund) data center global diproyeksikan melampaui USD 50 miliar pada 2026, dengan target imbal hasil 10% atau lebih.

Instrumen ABS dan CMBS juga semakin dimanfaatkan sebagai solusi pembiayaan ekspansi sektor, dengan volume penerbitan yang hampir dua kali lipat setiap tahun sejak 2020 dan diproyeksikan mencapai USD 50 miliar pada 2026.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

barenbliss Hadirkan Koleksi ‘Aura Mood’: Crush at First Swipe

marketinginsight.id – Tampil memukau dengan riasan yang tahan lama dan tampak mewah kini bukan lagi sekadar impian. Merek kecantikan barenbliss (BNB)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img