Tuesday, February 10, 2026

Akamai: Prediksi Keamanan Siber dan Teknologi Cloud di Asia Pasifik Tahun 2026

Must Read

marketinginsight.id – Lanskap digital di kawasan Asia Pasifik sedang bersiap menghadapi gelombang transformasi besar yang didorong oleh integrasi kecerdasan buatan dalam skala masif.

Memasuki tahun 2026, organisasi tidak hanya dituntut untuk sekadar mengadopsi teknologi terbaru namun juga harus mengantisipasi evolusi ancaman yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

Kecepatan inovasi yang terjadi saat ini membawa konsekuensi pada pergeseran standar keamanan dan pengelolaan infrastruktur cloud di berbagai sektor industri.

Dinamika ini memaksa para pemimpin teknologi untuk merancang ulang strategi mereka demi menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan operasional.

Fokus utama di tahun mendatang akan berpusat pada bagaimana menyeimbangkan efisiensi AI dengan perlindungan data yang semakin ketat di bawah regulasi kedaulatan digital.

Tantangan ini menjadi titik balik bagi perusahaan di negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Indonesia dalam membangun benteng pertahanan digital yang lebih otonom.

Akamai memperkirakan akan terjadi pergeseran fundamental pada cara serangan siber diluncurkan di kawasan Asia Pasifik dengan bantuan AI otonom.

Para pelaku kejahatan kini mampu memindai kelemahan sistem dan meluncurkan serangan secara mandiri dengan keterlibatan manusia yang sangat minimal.

Model serangan yang dikendalikan oleh mesin ini memangkas waktu penetrasi yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu menjadi hanya beberapa jam saja.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko secara signifikan bagi pasar digital bernilai tinggi seperti Korea, Jepang, dan Singapura.

Selain itu, Application Programming Interface atau API akan menjadi target utama serangan pada lapisan aplikasi di masa depan.

Hal ini dipicu oleh tingginya ketergantungan layanan perbankan digital, aplikasi ritel, dan layanan publik terhadap ekosistem API.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 80% organisasi di Asia Pasifik setidaknya pernah mengalami satu kali insiden keamanan API dalam setahun terakhir.

Mirisnya, hampir dua pertiga dari organisasi tersebut tidak mengetahui API mana yang sebenarnya mengirimkan data sensitif mereka.

Kesenjangan visibilitas ini, jika dipadukan dengan otomatisasi AI, memberikan peluang bagi peretas untuk mengeksploitasi alur API yang rentan secara massal. Keadaan ini memperparah risiko kebocoran data pada sektor-sektor yang memiliki aset informasi tinggi.

Kejahatan siber juga diprediksi akan mengalami demokratisasi penuh di mana ransomware berubah menjadi komoditas ekonomi berskala besar.

Layanan berlangganan seperti Ransomware-as-a-Service akan memudahkan siapa saja meluncurkan serangan tanpa perlu memiliki keahlian teknis yang mendalam.

Sektor keuangan, kesehatan, serta industri teknologi tinggi seperti semikonduktor tetap menjadi sasaran empuk bagi kampanye pemerasan ini.

Reuben Koh selaku Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan di Akamai menekankan bahwa tim keamanan kini harus beroperasi dengan kecepatan mesin untuk mendeteksi ancaman secara real-time.

Pergerakan menuju kedaulatan digital kini tengah mendefinisikan ulang strategi penggunaan cloud di hampir seluruh wilayah Asia Pasifik.

Organisasi mulai memandang portabilitas cloud sebagai langkah mitigasi risiko terhadap ketidakpastian geopolitik, bukan sekadar optimalisasi biaya.

Negara seperti India dan Australia saat ini memimpin transformasi ini melalui uji coba infrastruktur mandiri dalam skala besar.

Kemampuan untuk memindahkan beban kerja antar penyedia layanan tanpa konsekuensi teknis menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan ekonomi.

Fleksibilitas infrastruktur ini juga sangat krusial bagi pengembangan aplikasi AI generasi berikutnya yang membutuhkan mobilitas komputasi tinggi.

Di saat yang sama, arsitektur AI diprediksi akan menjadi lebih terdistribusi untuk mendekatkan proses data ke pengguna akhir.

Peningkatan kinerja dan pengurangan latensi akan sangat memengaruhi sektor mobilitas, otomatisasi industri, dan layanan publik dalam menjalankan inisiatif digital mereka.

Keamanan AI pun tidak lagi hanya berfokus pada perangkat akhir, melainkan harus mencakup seluruh rantai pasokan data.

Organisasi mulai mempercepat adopsi firewall AI yang mampu memeriksa perintah dan respons secara langsung di tepi jaringan.

Langkah ini diambil seiring dengan berkembangnya tata kelola AI yang lebih ketat, termasuk kontrol terhadap asal-usul data yang digunakan.

Dari sisi operasional keuangan, praktik FinOps akan mengalami pergeseran besar menuju tahap awal desain produk.

Tim engineering nantinya akan mengintegrasikan visibilitas biaya secara real-time sebelum aplikasi atau model AI tersebut diluncurkan secara resmi.

Strategi ini memberikan keunggulan kompetitif karena efisiensi biaya sudah terintegrasi ke dalam setiap keputusan arsitektur sejak awal pengembangan.

Jay Jenkins sebagai Chief Technology Officer Layanan Komputasi Cloud di Akamai menyebutkan bahwa otonomi menjadi arah baru bagi strategi cloud di Asia.

Hingga tahun 2027, diprediksi sebagian besar pimpinan teknologi akan mengandalkan layanan edge untuk mendukung kinerja AI dan kepatuhan regulasi.

Membangun layanan digital yang tangguh dan siap masa depan pada tahun 2026 memerlukan perancangan portabilitas yang matang sejak sekarang.

Redaksi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
TODAY'S PICK

Fortinet: Hadapi Era Baru Industrialisasi Kejahatan Siber di Tahun 2026

marketinginsight.id – Dunia keamanan digital kini tengah bersiap menghadapi pergeseran besar di mana serangan siber bukan lagi sekadar aksi perorangan. Memasuki...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img